Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Foto di atas adalah screen shot foto muka tulisan saya yang dimuat di kompas.id tentang debat capres pada 2 Maret 2019 lalu. Tulisan ini tulisan kedua tentang debat capres 2019 fokus pada ekspresi mikro, gerak tubuh, dan bahasa kandidat.

Selamat membaca…

Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Hukum panggung berlaku di panggung debat calon presiden. Di sana, masing-masing kontestan berusaha agar tampak sebagai tokoh baik (protagonis). Penampakan panggung depan ini dibangun melalui busana, mimik wajah, ekspresi muka, maupun gesture.

Surahmat, peneliti Bahasa dan Sastra Indonesia di Pusat Kajian Budaya Pesisir Universitas Negeri Semarang berpendapat, orang yang berada di panggung punya kesadaran bahwa dirinya sedang jadi perhatian banyak orang.

Karena itu, kebaikan-kebaikannya sengaja ditegaskan dan keburukan-keburukannya berusaha disembunyikan. Perilaku itu membuat sejumlah adegan saat debat Pemilu Presiden 2019, bersifat artifisial alias palsu.

Menurut Surahmat, ada dua pola yang terjadi di panggung debat. Pertama, upaya untuk menegaskan kembali sifat asli.

“Langkah ini biasanya dilakukan pada sifat-sifat bawaan yang positif, misal kesederhanaan pada capres 01 (Joko Widodo) dan ketegasan di capres 02 (Prabowo Subianto). Pola kedua, sifat yang benar-benar baru dikonsep (tim sukses),” kata Surahmat, kepada Kompas, Kamis (28/2/2019).

Dalam pengamatannya pada debat kedua di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, Minggu (17/2/2019), capres 01 terlihat ingin membangun kesan bahwa dia paham secara detail persoalan pembangunan. Motif itu terbaca dari kerapatan Jokowi menggunakan angka di awal debat, bahkan pada konteks kalimat yang sebenarnya tidak betul-betul perlu dukungan statistik. Jokowi tampak berpikir sebelum mengucapkan angka-angka itu.

“Jeda berpikir itu menunjukkan angka-angka yang diucapkannya bukan sesuatu yang akrab,” kata Surahmat.

Artikel terkait ada di sini : Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Sementara pada penampilan Prabowo, Surahmat menyangsikan ketulusan apresiasinya kepada Jokowi. Sikap ini, menurut amatannya, tidak otentik karena berbeda dengan kesehariannya. Sikap apresiatif ini tidak sesuai dengan nada menghentak dan gerak tangan mengomando di tengah dan akhir pendapat pada debat pertama di Pilpres 2019, Kamis (17/1/2019). Sepertinya, kata Surahmat, Prabowo ingin menumbuhkan kesan bahwa dia tidak seseram yang dibayangkan orang.

Tampil sebagai orang lain

Serupa dengan penilaian tersebut, analis kebohongan Handoko Gani menangkap ada ketidakselarasan antara ekspresi mikro dengan pernyataan capres di debat kedua. Adegan ini terlihat sekelebat, hanya sepersekian detik saja. Sepintas nyaris tersamar dengan persepsi yang ingin dibangun oleh tim sukses.

Handoko Gadi. Foto diambil dari situs handokogani.com.

Lulusan Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris ini mengatakan penyimpangan ekspresi itu dibuat untuk mengingkari pernyataan. Ini terlihat di kedua kandidat, baik capres 01 maupun 02. “Saat Jokowi bertanya soal lahan yang dikuasai Prabowo misalnya. Kata-kata capres 01 terbata-bata, berhenti sebentar, dan berat,” kata Handoko.

Ekspresi ini tidak selaras dengan ekspresi sebelumnya yang lancar dan datar. Di titik ini, kata Handoko, Jokowi tidak tampil sebagai dirinya sendiri. Dia menduga, capres 01 menjalankan saran pihak tertentu untuk menyampaikannya di debat.

“Begitu pun juga ketika Pak Jokowi ditanya soal janji pangan,” kata Handoko. Pada pernyataannya, Jokowi membela diri, bahwa beliau tidak ingkar janji. Namun ada gerak tubuh singkat (micro gesture) saat Jokowi memegang kancing ketika menjelaskan ini. Handoko meyakini micro gesture itu adalah bentuk pengakuan bahwa memang ada janji pangan yang belum terpenuhi.

Sementara pada penampilan Prabowo, dia menangkap ada penyimpangan ekspresi saat ia menyampaikan tentang penguasaan lahan.

Saat itu, dia menyampaikan bahwa dirinya siap untuk mengembalikan tanah ke negara jika dibutuhkan. Tetapi pada kalimat berikutnya disampaikan, daripada diambil asing, lebih baik dikelola sendiri.

Ungkapan ini tidak selaras dengan pernyataan sebelumnya. Menurut Handoko, pada konteks ini ada penyimpangan verbal yang bisa diduga dia tidak rela menyerahkan lahan itu ke negara.

Begitu pun saat bicara soal unicorn (perusahaan rintisan dengan nilai 1 miliar dollar Amerika Serikat). Prabowo ingin memperjelas pertanyaan Jokowi dengan menanyakan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Pada saat Jokowi menjelaskan soal itu, ada ekspresi mikro Prabowo yang menunjukkan bahwa dia tidak nyaman dengan penjelasan Jokowi.

Berangkat dari sini, kata Handoko, wajar jika sebagian kalangan menyebut capres 01 dan capres 02 sepertinya tidak tampil seperti biasanya. Minggu (17/2/2019) lalu Jokowi tampil lebih agresif, sedangkan capres 02 malam itu tampil lebih rileks. Handoko menduga, penampilan tersebut sengaja dibuat untuk membangun persepsi positif dari pemilih.

Bukan kepalsuan

Aria Bima, Direktur Program Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf menepis anggapan bahwa sikap Jokowi dibuat-buat. Menurut Aria Bima, Jokowi pada pidato-pidatonya sebagai Presiden ke-7 RI sering tampil agresif meski tetap dalam batas-batas kesantunan.

“Di tahun politik ini beliau tampil lebih politis karena memang situasi menuntutnya demikian. Dan itu menurut saya bukan agresif, beliau ingin menyampaikan kebenaran secara lugas dan argumentatif,” kata Aria Bima.

Tautan lengkap tulisan ini ada di : Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Tentang penguasaan lahan Prabowo, Aria Bima mengakui bahwa tim pemenangan mengecek data lebih dahulu sebelum debat. Temuan itu menyebutkan, bahwa Prabowo menguasai lahan di Kalimantan dan Sumatera. “Dalam era demokrasi, transparansi itu sangat penting,” kata Aria Bima.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Andre Rosiade berpendapat serupa. Tidak ada kepalsuan dalam debat kedua. Sikap rileks Prabowo di debat kedua itu, kata Andre, bagian dari cerminan sikap kesehariannya. “Saya yang menyaksikan sendiri, beliau sebenarnya ya begitu,” kata Andre.

Begitu pun juga dengan apresiasi yang diberikan Prabowo, menurut Andre itu tulus dari dirinya. Sebenarnya, kata Andre, Prabowo justru menolak bahan yang disiapkan tim kampanye. Bahan tersebut dapat dipakai Prabowo untuk berdebat dengan Jokowi jika mau.

Namun, Prabowo tidak mau memanfaatkannya. Prabowo tidak ingin menyerang pribadi Jokowi di panggung debat. “Bapak ingin adu gagasan, tidak mau menyerang pribadi calon lain,” kata Andre. (Andy Riza Hidayat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s