Pemilu 2019 ; Terlalu Rumit Bagi Seorang Tukang Bangunan

screen-shot-2019-04-27-at-10.24.50-am.png
Screen shot wajah depan Harian Kompas terbitan edisi Jumat (20/4/2019). Tampak warga memanggul kotak suara didampingi aparat tentara nasional Indonesia. Selain melaporkan ulasan pelaksanaan pemilu, juga menceritakan tentang perjuangan petugas penyelenggara di tingkat bawah. Judulnya Pahlawan Pemilu Bertaruh Nyawa.

Tak terbayangkan, Wahyu (38) harus menghadapi kerumitan pemilu 2019. Pemilu langsung anggota legislatif dan pemilihan presiden beserta wakil presiden ini terlalu kompleks baginya. Sebagai tukang bangunan, sistem ini jauh lebih ribet daripada kesulitan kerja yang dihadapinya sehari-hari. Dia hanya berusaha agar tidak terjadi kesalahan selama menjalankan tugasnya sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Ternyata usaha itu tidak mudah. Kelelahan masih terasa hingga Kamis (25/4/2019). Padahal pemungutan suara sudah lewat dari sepekan sebelumnya. Lulusan sekolah menengah atas ini sebenarnya sudah pernah menjadi Ketua KPPS di tempat pemungutan suara (TPS) di sekitar rumahnya di Kelurahan Curug, Kota Depok, Jawa Barat. “Bukan soal capek fisik. Tetapi lelah pikiran itu yang berat,” kata ayah dua anak ini.

Pemilu 2014, Wahyu juga bertugas sebagai Ketua KPPS di TPS sekitar rumahnya. Kali ini, dia memulai kerja sebagai Ketua KPPS satu bulan sebelum hari pemungutan suara Rabu (17/4/2019) lalu. Setelah mengikuti bimbingan teknis, dia harus memastkan seluruh logistik pemilu tersedia sebelumnya. Dia juga bertanggungjawab atas berdirinya TPS 23 untuk 220 pemilih terdaftar.

Puncak kerumitan dihadapinya ketika pemungutan berlangsung Rabu pagi hingga tengah malam. Tidak semua pemilih memahami teknis pemungutan. Kesalahan menaruh surat suara yang lima jenis di TPS nya, bisa berbuntut kisruh. Sebab semua pihak saling mengawasi agar kecurangan tidak terjadi, terutama para saksi yang kecurangan dapat dihindari. Kekhawatiranya terjadi. Seorang warga salah menaruh surat suara di kotak yang tidak seharusnya.

screen-shot-2019-04-27-at-10.49.08-am.png
Itu adalah foto di mana para anggota KPPS di TPS 31 Curug, Bojongsari, Depok, Jawa Barat menyelesaikan berita acara setelah penghitungan suara selesai pada Kamis (18/4/2019) dini hari.

Melalui kesepakatan petugas di TPS 23 pencarian surat suara yang tertukar dilakukan. Proses ini memperpanjang waktu penghitungan suara yang mestinya bisa lebih cepat dilakukan. Ketegangan sempat terjadi saat warga sekonyong-konyong melontarkan tudingan curang. “Itu menyakitkan, mengganggu kami,” kata Musa (49) anggota KPPS di TPS 23.

Setelah penghitungan suara beres, kerumitan berikutnya harus dihadapi. Wahyu dan petugas KPPS lain menyelesaikan berita acara penghitungan. Berita acara ini dan formulir yang harus ditandatangani jumlahnya mencapai puluhan lembar. Sebab selain petugas KPPS, para saksi, pihak kelurahan, kecamatan, dan panitia pengawas juga ikut membubuhkan tanda tangan. Semua yang tanda tangan harus mendapat salinannya.

Selama proses berlangsung, tidak boleh ada kesalahan. Dian-diam sesama petugas pun saling mengawasi, karena tidak semua dari mereka memiliki aspirasi politik yang sama. Karena itu, ketegangan seperti ini menambah beban kelelahan fisik yang mendera.

Karikatur yang menggambarkan beban kerja petugas KPPS. Saya kutip dari situs http://poskotanews.com/.

Di TPS yang dia pimpin, Wahyu dapat menyelesaikan penghitungan pukul 24.00. Sementara proses pengisian berita acara dan pengecekan berbagai formulir membutuhkan waktu selama lima jam. Baru sekitar pukul 05.00, semua kegiatan selesai. Hanya berselang satu jam, dia dan tim mengirim kotak suara beserta seluruh dokumen pemungutan ke panitia pemilihan kecamatan (PPK).

Praktis, sejak Rabu (17/4/2019) hingga Kamis (18/4/2019) pagi tim KPPS pimpinan Wahyu tidak istirahat dengan jenak. Mereka melawan kantuk sekuat-kuatnya. Sementara bagi yang tidak tahan, tidur di TPS beralaskan kardus.

Untuk semua kesibukan itu, dia menerima honor Rp 550.000 sebagai ketua KPPS. Setelah dipotong pajak, honor bersihnya Rp 517.000. Nilai ini belum termasuk dana operasional pelaksanaan pemungutan Rp 2,55 juta per TPS. Wahyu tidak mempersoalkan nilai honor dan dana operasional, cuma dia tidak habis pikir mengapa pemilu 2019 begitu rumit. “Tak pernah terbayang saya begini sulit,” kata tukang bangunan ini.

Jangankan tukang bangunan, Rosit (36) pengajar ilmu komunikasi politik Universitas Pancasila, Jakarta ikut merasakan kesulitan. Ketua KPPS di TPS 31 Kelurahan Curug, Bojongsari, Depok mengakui kerumitan pemilu kali ini. Proses penghitungan dan pengisian berita acara memakan waktu dan membutuhkan ketelitian tinggi. Bimbingan teknis satu atau dua kali pertemuan, belum cukup untuk memberi pemahaman mereka.

“Penghematan angara juga harus mempertimbangkan keselamatan petugas di lapangan,” kata Rosit. 

Cerita lengkap di atas bisa dibaca di link ini : Rekapitulasi Suara, Begitu Rumit dan Melelahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s