Hari yang Padat di Istana Raja Faisal

Ini kisah tahun 2015. Sayang sekali jika tersimpan di file saya dan kliping koran. Saya membaginya dalam bentuk utuh.

Upacara penyambutan Presiden joko Widodo di Jeddah, Arab Saudi akhirnya dibatalkan karena badai gurun melanda saat itu.

RI-Arab Saudi

Hari yang Padat di Istana Raja Faisal

Kelelahan menyergap kami, Sabtu malam 12 September 2015. Jarak Jakarta ke Jeddah sejauh 7.980 kilometer yang kami tempuh semalam sebelumnya benar-benar terasa panjang. Namun hari itu, Presiden Joko Widodo dan delegari RI langsung menjalani kegiatan yang nyaris tanpa jeda. Hari yang padat ini menjadi titik awal merawat kembali hubungan historis Indonesia-Arab Saudi yang sudah lama terbangun.

Seharusnya sebagian acara sudah bisa dilakukan sesaat setibanya presiden di Bandara Internasional Jeddah. Lantaran kencangnya badai gurun, menunda upacara penyambutan. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis meminta Presien Jokowi langsung istirahat di Istana Raja Faisal yang memang disediakan untuk presiden dan delegasi resmi.

Nyatanya, Jumat malam 11 September 2015, presiden tidak bisa langsung beristirahat. Badai gurun di Saudi menyebabkan crane di Masjidil Haram di Mekkah jatuh menimpa jamaah calon haji. Karena sebagian korban warga Indonesia, presiden perlu menyampaikan sikap. Presiden bakan berniat ingin menjenguk langsung para korban. Namun otoritas keamanan Arab Saudi tidak memberi izin karena alasan keamanan.

Sehari 13 acara

Sabtu pagi, kondisi fisik delegasi RI belum sempurna pulih. Perhatian mereka pun sebagian tersita ke musibah jatuhnya crane di Mekkah. Apa boleh buat, diplomasi negara harus dijalankan. Presiden memulai hari kegiatan dengan menerima Presiden Islamic Development Bank (IDB) Ahmad Mohamed Ali Al-Madani dan Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI) Iyad Madani.

Usai bertemu keduanya, presiden menuju Istana Al-Salam Diwan Maliki, setengah jam dari penginapan presiden. Di sana presiden dan delegasi mengikuti upacara penyambutan yang tertunda, jamuan kenegaraan Raja Salman, dan pertemuan bilateral dengan delegasi Arab Saudi. Di penghujung acara di Istana Diwan Malaki, presiden menerima pemberian medali King Abdul Aziz Medal Raja Salman.

Tidak jeda lama, pada Sabtu sore, presiden mendatangi pertemuan bisnis yang dihadiri oleh pengusaha kedua negara di Hotel Crowne Plaza, Jeddah. Pertemuan itu masih belum setengahnya, karena masih ada rangkaian pertemuan hingga menjelang tengah malam. Berturut-turut, presiden menerima kunjungan tujuh menteri Kerajaan Arab Saudi, salah satunya Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Putra Mahkota Mohammed Bin Salman Abdulaziz Al Saud‎. Ternyata mereka diminta raja bertemu kembali presiden setelah pertemuan bilateral di siang harinya.

Selama pertemuan, presiden didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Tempat pembakaran kayu gaharu. Aromanya kuat menahan kantuk orang yang ada di ruang pertemuan di Istana Raja Faisal, Jeddah, Arab Saudi.

Tertidur

Selain lelah, padatnya kegiatan membuat rasa kantuk menyerang. Dua menteri kabinet kerja sempat tertinggal mengikuti pertemuan. Peristiwa ini terjadi pada saat presiden akan bertemu Menteri Keuangan Ibrahim Al-Assaf. Di tempat acara, hanya terlihat Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, serta Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab.

Beberapa menteri yang lain tidak terlihat, ada yang rehat di ruang makan, masuk ke kamarnya, dan yang lain tidak terlihat. Presiden berbicara lirih ke Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Sejenak kemudian presiden keluar dari ruang pertemuan lagi, naik ke ruang kamarnya. Baru setelah menteri yang bersangkutan tiba di ruang pertemuan, presiden turun ke lagi.

Tidak hanya menteri yang kelelahan, kami pun dilanda kerepotan mengirim berita. Betapa tidak, 13 acara dari pukul 09.00 hingga pukul 22.30 waktu setempat. Bagaimana mengirim beritanya ? Jurnalis selalu punya akal untuk mengirim semua peristiwa itu. Namun soal mengantuk, kami kesulitan mengatasinya. Sasaran kami adalah minum kopi di ruang makan.

Tidak susah memanggil pelayan yang memang disediakan untuk kami. Tetapi dia kebingungan saat kami meminta kopi. Mereka menanyakan, apakah benar bahwa pesanan kami kopi ? Kami yakin benar, kopi itu dipesan dalam keadaan sadar. Lalu dia kembali bertanya, apakah besok tidak bekerja ? Kami dengan datar menjawab, “Bekerja.”

Pelayan kembali ke dapur, dan terjadi keributan yang tidak kami sangka. Pelayan yang menerima pesanan kami, ditegur atasannya. Adu mulut yang kami pahami, atasan pelayan menanyakan mengapa mau menerima pesanan kopi di malam hari. Bagi mereka, minum kopi di malam hari sebuah keganjilan dikala situasi sedang bekerja. Mereka khawatir, kami besok terlambat memulai kerja karena efek minum kopi bisa membuat mata melek hingga larut.

Di luar kopi, penyemangat kami adalah harum bau kulit kayu gaharu yang dibakar di ruang istana Raja Faisal. Aroma itu merebak ke seluruh ruang pertemuan, hingga siapa pun menghirup terasa segar.

Situasi perang

Hari itu, Istana Raja Faisal terlihat sibuk. Demi keamanan, area sekitar istana dijaga super ketat. Tentara berbadan tegap, sangar, berseragam militer dan dilengkapi senjata terlihat di area dalam dan luar istana. Saat itu, Arab Saudi sedang dalam kondisi berperang melawan Suku Houthi di Yaman. Sulit bagi kami untuk menghela napas sebentar di luar istana, karena semua kebutuhan di dalam sudah terpenuhi.

Kami tidak tahu, situasi yang terjadi diluar, bahkan lewat jendela sekali pun, karena jendela Istana Raja Faisal tertutup kain yang berlapis-lapis. “Di luar matahari masih ada atau tidak ?,” tanya Adi Guno, warga Indonesia yang bekerja untuk media berkantor di Timur Tengah.

Rentetan pertemuan di Jeddah, saat itu menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Dua dari semua kesepakatan yang ada, telah direalisasikan yakni investasi perusahaan perminyakan Arab Saudi yaitu Saudi Arabian Oil Co atau Aramco menanamkan investasinya di Indonesia senilai 6 miliar dolar Amerika Serikat. Kesepakatan berikutnya yang telah diwujudkan adalah normalisasi dan penambahan kuota haji yang bertahun-tahun diperjuangkan Indonesia. “Pencapaian ini sudah positif, meskipun ada yang belum terealisir,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Saat Raja Salman membalas kunjungannya, Pemerintah Indonesia berupaya menyeimbangkan layanan yang diberikan Raja Salman. Dari penjemputan di bandara hingga pemberian tanda bintang Adipurna adalah langkah untuk menghormati tamu, sebagaimana mereka menghormati Indonesia di negerinya. Meskipun raja tidak tinggal di istana yang dipinjamkan pemerintah, layanan balasan ini dianggap lunas.

Hal membedakan ketika kunjungan Raja Salman ke Indonesia, nuansa keragaman begitu terlihat di tanah air. Para menteri yang mendampingi Presiden Jokowi sebagian adalah perempuan. Namun tiga hari di Arab Saudi, kami tidak menemukan menteri perempuan. Saat di Jeddah, Wakil Putra Mahkota (sebelum ditetapkan sebagai putra mahkota saat itu) Mohammed Bin Salman Abdulaziz Al Saud sangat terkesan dengan Menlu RI Retno Marsudi.

Mohammed bahkan mengutarakan keinginannya untuk membuat tiruan menteri seperti Retno. Entah kapan bisa terealisir niat menjadikan perempuan ebagai menteri di negeri gurun itu. Apresiasi ini yang patut disyukuri, bukan terpana oleh sesuatu yang belum tentu pas diterapkan di negeri ini. Selamat berlibur Raja Salman. (Andy Riza Hidayat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s