Perkenalan Saya dengan Papua

Karjunan 69 tahun saat saya temui pada Maret 2018 di Wasur, Merauke, Papua. Karjunan merupakan perantau asal Jawa Timur yang dianggap saudara oleh Suku Marind, suku yang hidup di Merauke. (Andy Riza Hidayat)

Saya orang Jawa Timur. Sebelum bertugas sebagai jurnalis, saya tidak pernah menginjakkan kaki di Papua. Saya bersyukur, pada periode tahun 2015-2018, lima kali saya ke sana. Papua yang saya maksud adalah Provinsi Papua dan Papua Barat dalam istilah administrasi pemerintah Indonesia.

Perjumpaan dengan tanah, orang, dan menghirup udara Papua selama bertandang ke sana sungguh mengesankan. Merauke, Wamena, Nabire, Jayapura, Sorong, Timika, Manokwari, dan Raja Ampat merekam jejak perjalanan saya. Semua perjalanan itu adalah perjalanan dinas, kunjungan saya sebagai jurnalis.

Selama itu pula melihat langsung orang pake koteka, menari bersama-sama, menyanyi diiringi gendang tifa, menikmati ubi di pesta bakar batu, hingga pesta malam di tepi pantai gugusan pula Raja Ampat. Salah satu hal yang aku kagumi adalah, bahasa Indonesia mereka sangat bagus. Aku bisa mengatakan, lebih bagus dari beberapa daerah di Indonesia.

Aku langsung jatuh cinta. Orangnya ramah, alamnya eksotik, makanannya enak, udaranya segar. Tak terbantahkan semua pesan yang terkandung dalam lagu “Tanah Papua” terjawab selama perjalanan saya ke sana. Setiap ke Papua, lirih-lirih aku menyanyikannya di sepanjang perjalanan.

Tanah Papua tanah yang kaya

surga kecil jatuh ke bumi

Seluas tanah sebanyak madu

adalah harta harapan

Tanah Papua tanah leluhur

Disana aku lahir

Bersama angin bersama daun

Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Biar nanti langit terbelah aku Papua

Oooh, Oooh,

Tanah Papua tanah yang kaya

surga kecil jatuh ke bumi

Seluas tanah sebanyak madu

adalah harta harapan

Tanah Papua tanah leluhur

Di sana aku lahir

Bersama angin bersama daun

Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Hitam kulit keriting rambut aku Papua

Biar nanti langit terbelah aku Papua

Bila ingin mendengarkannya bisa di klik sini untuk pelantun Franky Sahilatua. Lagu ini kemudian lebih populer dinyanyikan oleh Edo Kondologit di sini.

Upacara bakar batu di Wamena yang pernah saya ikuti saat meliput kegiatan Presiden Joko Widodo. (Andy Riza Hidayat)

Kesan saya, lagu itu menggambarkan kecintaan orang Papua pada tanah leluhurnya. Mereka lahir dan tumbuh bersama kekayaan yang terkandung di Papua. Bahkan jika langit terbelah pun, mereka tetap akan mencintai Papua. Saking kuatnya, saya yang bukan Papua pun merasa jadi bagian mereka saat menyanyi lagu itu.

Kadang dengan suara yang lebih keras, sementara orang di sekitar saya yang mendengarkan terasa asing. “Orang Jawa kok nyanyi itu.” Saya tidak peduli. Lagu itu memang pas dan kuat pesannya.

Ironi

Namun pesan di lagu itu tidak seindah kenyataannya. Ada pertanyaan yang mengusik ketenangan saya. Dari pengamatan saya, mereka belum bisa menikmati semua kekayaan yang ada di perut bumi Papua. Ukuran sederhana yang saya pakai adalah minimnya keberadaan mereka di pusat-pusat kegiatan ekonomi kota. Mereka lebih banyak terlihat di desa-desa atau di pinggiran hutan.

Paling tidak yang saya lihat tidak sebanyak orang pendatang. Pertanyaan ini muncul saat saya mengunjungi Merauke, pada Maret 2018 lalu. Orang-orang Suku Marind mengingatkan agar pembangunan menyelaraskan dengan nilai-nilai budaya lokal. Pembangunan yang agresif perlu diimbangi pendekatan budaya yang tulus dan terbuka. 

Saya (belakang kiri) saat bertugas di Nduga, Papua, pada Desember 2015. Foto oleh Ray Jordan.

Budi Asyhari Afwan dalam bukunya Mutiara Terpendam Papua: Potensi Kearifan Lokal untuk Perdamaian di Tanah Papua (2015), mengutip penelitian Stuart Upton dari Departemen Sejarah dan Filosofi University of New South Wales, Australia, pada 1995, Papua menjadi tujuan migrasi tertinggi di Indonesia.

Pada 2010, arus migrasi yang masuk Papua terus meningkat. Peningkatan arus migrasi ke Papua ini dianggap sebagai yang tertinggi di dunia, yaitu 5 persen per tahun. Pada saat yang sama, gelombang modernisasi sulit dipahami oleh orang Papua. Dalam bukunya, Budi menilai orang Papua mengalami lompatan budaya sejalan dengan masuknya peralatan modern, seperti telepon genggam dan televisi.

Untuk menjaga keseimbangan sosial dan meningkatkan akses bagi masyarakat Papua, harus ada ”jembatan” yang mampu mentransformasikan orang Papua dalam laju modernisasi. Tentu saja, proses ini jangan sampai membuat mereka tercerabut dari akar budayanya.

Tidak hanya itu, persoalan ketimpangan menjadi isu serius di Papua.Persentase kemiskinan di Papua dan Papua Barat jauh di atas persentase kemiskinan nasional (9,66 Persen, per September 2018). Di Papua Barat angka kemiskinan sebesar 23,01 persen dan Papua sebesar 27,74 persen. Angka ini merupakan indikasi adanya ketimpangan pembangunan dan tingkat kesejahteraan antardaerah di Indonesia, Kompas, Rabu, 25 Jul 2018.

Karenanya, jangan ditambah lagi dengan masalah dengan diskriminasi rasial. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s