Menjadi Guru di Era Pandemi Korona

Photo by Tatiana Syrikova from pexels.com.

Kebiasaan baru ini benar-benar baru bagi anak-anak. Mereka sekolah di rumah tanpa harus bertemu teman-temannya secara fisik. Sebagian anak, merasa situasi ini mirip dengan liburan. Sehingga sulit untuk menerapkan kedisplinan ala sekolah di area rumah.

Kebiasaan baru ini memasuki pekan keempat, dan entah sampai kapan. Sekolah meliburkan jam belajar di sekolah karena pandemi Covid-19 yang belum mereda. Sebagai gantinya, belajar anak digelar di rumah. Suasana rumah memang berbeda dengan sekolah. Apa boleh buat, ini juga mempengaruhi semangat belajar anak-anak, setidaknya anak saya sendiri.

Dua dari tiga anak saya duduk di bangku sekolah. Dia adalah Lui kelas 4 SD dan Eel di kelas 1 SMP. Keduanya menerima materi pembelajaran dari aplikasi google classroom. Sesekali ada pertemuan virtual lewat aplikasi zoom. Proses pengerjaan tugas dan koneksi virtual tidak selalu mulus karena faktor-faktor teknis.

Saya membayangkan, model pembelajaran seperti ini bakal lebih sulit dilakukan untuk wilayah yang koneksi internetnya lambat. Atau model ini bakal sulit diterapkan untuk orangtua yang kurang akrab dengan perangkat digital. Sebab tidak semua siswa berasal dari kalangan yang familiar dengan gawai.

Photo by Cottonbro from pexel.com.

Ya, gawai adalah vital di pembelajaran jarak jauh. Sedikit saja ada gangguan teknis pada gawai itu, maka pembelajaran tidak bisa dilakukan. Beruntunglah saya yang tidak asing dengan ini semua. Hanya hal-hal teknis lain yang menghambat. Selebihnya soal motivasi anak-anak belajar di rumah.

Tidak jarang, saya harus buka buku mereka baca-baca materi yang diajarkan. Kadang mereka tidak sabar mencari jawaban pertanyaan pada tugas-tugasnya. Saya menuntunya dan mengarahkan pada materi yang perlu dibaca. Ini benar-benar jadi guru untuk mereka. Tidak masalah, sepanjang masih bisa, saya akan melakukan. Toh selama masa pandemi ini saya lebih banyak bekerja dari rumah. Sedikit gambaran dapat disimak di link ini ; Silahkan simak juga : Bagaimana Realisasi Belajar di Rumah?

Masalah lain adalah kebosanan. Lui aktif di sekolahnya seperti mati gaya belajar di rumah. Setelah semua tugas selesai dikerjakan, dia pun pusing mau melakukan apa. Dia lebih sering membuat prakarya, mengkliping apa saja yang terkait BTS, dan main gim. Padahal dia bukan anak rumahan, dia lebih suka main di luar rumah.

Karena masa pembatasan sosial, dan pekan depan bakal lebih ketat, aktivits di luar rumah dibatasi. ”Enak, sih, cuma bosan lama-lama,” kata Lui yang merasa lebih santai di rumah. Pagi itu, dia belajar sambil ngemil makanan kecil yang saya siapkan. Dia sebenarnya lebih suka belajar bersama teman-temannya daripada sendirian di rumah.

Bagaimana dengan pengalaman kalian ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s