Menjalankan Tugas Jurnalistik Saat Pandemi

Rapat besar Harian Kompas yang digelar dengan menggunakan aplikasi zoom meeting, Kamis (22/4/2020). Foto tangkapan layar Andy Riza.

Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal, tidak terkecuali kerja jurnalis. Mereka harus bersiasat agar tetap jalan. Pada saat yang sama, keselamatan menjadi hal yang utama. Perdebatan ini menghangat di ruang-ruang redaksi ketika wartawan dihadapkan pada dua tuntutan ; mencari informasi dari sumber utama dan menjaga agar dirinya terhindar dari serangan virus SARS CoV-2 penyebab Covid-19.

Di antara varian jurnalis, teman-teman fotografer paling sering di lapangan meski pandemi melanda. Mereka membutuhkan foto yang tidak bisa dikerjakan dari dalam rumah. Karenanya mereka menyiasati diri dengan beberapa standar keamanan, di antaranya menjaga jarak, menghindari kerumunan meski ini agak susah, membersihkan badan usai dari lapangan, serta membersihkan tangan, baju, dan perlengkapan kerja lain setiap hari.
Lebih repot, iya untuk keamanan diri dari serangan virus.

Ini belum termasuk langkah-langkah agar tubuh mereka selalu bugar. Agus Susanto, fotografer Kompas dalam obrolan di kanal podcast saya Orisinal, menjaga diri dengan olahraga ringan setiap hari. Tidak cukup dengan itu, dia juga mengonsumsi madu, vitamin, dan buah-buahan lebih banyak.

Bagaimana dengan wartawan lain ? Kami tetap menjalankan tugas. Bagi reporter, mereka mengurangi aktivitas di lapangan dengan memanfaatkan kanal-kanal online untuk mencari berita. Untungnya, sebagian besar lembaga yang menjadi sumber informasi menyediakan bahan materi melalui siaran langsung di youtube, konferensi di zoom, dan bentuk interaksi online lain.

Kami mengikuti rapat dengan menggunakan masker dan menjaga jarak fisik antar peserta rapat. Foto Andy Riza.

Mencari bahan berita dengan tidak bertatap langsung memang berbeda. Kami yang biasanya mendeskripsikan suasana sesungguhnya, mulai membiasakan dengan bahan-bahan daring. Situasi ini dapat memanjakan jurnalis jika terlena, dan kemudian malas melakukan verivikasi. “Rasanya kalau tidak ke lapangan, ada yang kurang. Seperti tidak sah meliput,” kata Aditya Diveranta, jurnalis muda di Kompas. 

Situasi memang tidak ideal. Namun keselamatan harus dikedepankan agar tidak terpapar virus korona jenis baru (SARS-CoV-2). Sebagian editor mengingatkan “tidak ada berita seharga nyawa.” Sejumlah kantor media massa pun membuat ketentuan bagi kerja-kerja jurlistik, seperti yang ada di link ini.  

Tradisi verivikasi mesti tetap berjalan meskipun liputan dilakukan dari jarak jauh. Ini menjadi tantangan seperti yang disampaikan Firdaus Cahyadi, Executive Director One World Indonesia dalam artikelnya di Harian Kompas,  Rabu (15/4/2020) berjudul “Covid-19 dan Jurnalisme Media Daring.

Menurut dia, wabah Covid-19 tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga mulai menyerang jurnalisme. Seiring dengan merebaknya wabah Covid-19, marak pula media-media massa, terutama media daring, menabrak prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Jurnalisme pun seakan ikut sekarat di tengah mewabahnya Covid-19. Sekaratnya jurnalisme itu salah satunya ditandai dengan munculnya jurnalisme ludah.

Karenanya, produk jurnalistik makin dituntut untuk masuk ke berbagai platform. Selain cetak yang tidak mudah lagi didistribusikan di era pandemi ini, konten jurnalistik mesti bisa masuk ke platform digital baik berbentuk teks, foto, video, maupun suara. 

Lalu, apakah akan lahir jurnalisme baru setelah pandemi ? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s