Kegembiraan dan Kecemasan di Hari Minggu

Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah yang jatuh pada Minggu (24/5/2020) menyisakan kontradiksi; kegembiraan dan kecemasan. Kami bergembira karena dapat menuntaskan puasa dalam situasi krisis. Apalagi belakangan, interaksi dengan keluarga makin dekat. Pada saat yang sama, kami cemas karena kasus pandemi Covid-19 belum dapat tertangani sejak kasus pertama Maret 2020 muncul.

Mari bicara tentang kegembiraan dulu. Lebaran kali ini kami benar-benar menjalaninya dalam suasana baru. Kami lebih sering beribadah di rumah untuk menjaga jarak antar warga demi memutus rantai penulasan virus korona penyebab Covid-19. Hampir setiap rumah menggelar salat jamaah tarawih, bagi yang sempat menggelar, dan berujung pada salat idul fitri pas 1 Syawal.

Semua dilakukan di rumah, dan tidak melibatkan kerumunan banyak orang. Lalu apa istimewanya ? Yang istimewa adalah imamnya. Imam atau pemimpin salat biasanya merupakan orang pilihan, apalagi saat salat Idul Fitri. Pengurus masjid setempat memilih kiai, atau pemuka agama yang punya nama, kapasitas, dan paling tidak dikenal orang.

Kini, setiap lelaki yang akil balig dan memenuhi syarat sebagai imam, dapat memimpin salat, tidak terkecuali Mulyono (49), wiraswastawan jasa pengiriman yang menjadi imam untuk keluarganya. Mul, panggilan akrabnya harus belajar lebih dahulu tata cara salat id.  “Sebab saya sendiri belum pernah khotbah,” kata Mul, warga Kelurahan Curug, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (24/5/2020)

Karena tidak ada ruang salat khusus, Mul mengubah salah satu kamar di rumahnya menjadi tempat salat id. Ruangan itu cukup menampung jamaah salat yang terdiri dari tiga orang dengan jarak fisik yang aman. Meski sempat grogi, namun jalannya salat lancar hingga akhir. Mul tidak ingin melewatkan momen itu begitu saja. Dia mengabadikannya dan mengunggah di kanal youtube miliknya.

Hari itu, pengurus masjid di lingkungannya tidak menggelar salat berjamaah di halaman masjid. Keputusan ini diambil untuk memutus rantai penularan Covid-19. Kebiasaan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana warga tumpah ruah di tempat itu. Namun Minggu pagi itu, suasana terlihat lengang. Hampir semua warga yang berlebaran, salat id di dalam rumah masing-masing.

Begitu pun setelah salat, kebiasaan warga saling mengunjungi rumah tidak terlihat. Mereka menyadari pandemi masih belum usai. Karenanya warga setempat hanya berani keluar di jalan perumahan, sambil menyapa warga yang ada di dalam rumah. “Selamat lebaran, mohon maaf lahir batin,” begitu sapaan yang terucap sesama warga pada jarak yang aman.

Kali ini, pengurus lingkungan juga tidak menggelar halal bi halal, silaturahmi warga untuk saling memaafkan dalam pertemuan fisik. Selain bersalam-salaman, acara seperti itu digelar dengan makan-makan yang disiapkan warga. Namun Minggu pagi itu, tidak ada lagi. Warga menjalani hal baru dalam Lebaran karena situasi pandemi.

Kecemasan masih membayangi warga, sebab kurva penambahan kasus baru belum juga melandai. Ada perasaan antara gembira, sedih, dan was-was khawatir tertular virus korona jenis baru. Betapa tidak, pada 2 Maret lalu, kasus di pertama diumumkan dua orang di Depok, Jawa Barat. Per 24 Mei 2020 ada 22.271 kasus se Indonesia. Ada lonjakan 22.000 kali sejak kasus pertama diumumkan. Di kompleks kami, pagi itu sudah ada dua warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan masih menjalani perawatan.

Dan saat tulisan ini akan dipublish, Kamis (18/6/2020) angka warga yang terinfeksi virus korona baru menjadi 42.762 kasus. Ada penambahan 1.331 kasus baru dalam satu hari. Ironisnya, penambahan kasus ini terjadi justru saat pemerintah melonggarkan pembatasan sosial yang sudah berjalan dua bulan lebih.

Obrolan warga pagi itu beralih ke masalah covid. Alip Nuryanto, pengurus lingkungan yang tergabung dalam Satuan Tugas Covid RW 12, Kelurahan Curug, Bojongsari, Depok menginformasikan bahwa lingkungan kami sudah masuk zona merah. Zona yang menandai ada kasus positif Covid-19. Semula kami tak membayangkan ada kasus itu di tetangga kami. Ternyata sampai juga ke sekitar lingkungan kami tinggal.

Ketua RT kami, Hariri, meminta warga tenang. Semua ini terjadi di luar kemampuan warga. Semua hal yang terjadi menjadi dikait-kaitkan dengan Covid-19, termasuk seorang warga yang terkena serangan jantung pada pekan sebelumnya di siang hari. Warga yang kemudian diketahui negatif Covid-19 itu meninggal dunia setelah sakitnya kambuh. Warga sempat gamang melakukan langkah lebih lanjut, karena khawatir yang bersangkutan terserang Covid-19. 

Andai saja, ada kejelasan siapa harus melakukan apa, mungkin nyawa orang yang sakit di luar Covid-19 bisa tertolong. Lantaran warga bingung, bisa jadi orang yang sakit di luar Covid-19 tidak tertolong karena langkah penyelamatan yang terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s