Gosens, Mewakili Mereka yang Pernah Dicampakkan

Gosens menyapa pendukung Jerman usai melesakkan gol ke gawang Portugal, Sabtu (19/6/2021). Foto merupakan hasil tangkapan layar di situs uefa.com dengan kredit POOL/AFP via Getty Images.

Sabtu (19/6/2021) sore di Football Arena Munich, Jerman, dia bukan sekadar mengemban misi pribadi, tetapi juga misi negaranya. Robin Everardus Gosens ingin membuktikan bahwa dia layak mendapatkan pengakuan idolanya, Christiano Ronaldo. Gosens, pemain Jerman ini sudah lama mengidolakan Ronaldo. Hingga Gosens sangat menginginkan jersey Ronaldo, bintang Portugal yang kini bermain untuk Juventus.

Seorang fans merebut panggung bintang sang idola. Dia juga mewakili tim yang baru saja kalah di laga awal babak penyisihan grup. Tim Jerman dapat membalikkan keadaan yang sulit menjadi mungkin di Munich. Salah satu pemain yang memahami bagaimana ini perjuangan itu bisa terwujud adalah Gosens.

Pemain Atalanta salah satu tim di liga seri A Italia ini menyimpan pengalaman memalukan pada 17 Desember 2020, saatnya timnya melawan raksasa Juventus di perempat final Copa Italia. Di akhir laga, Gosens mendekati bintang Portugal dan meminta kaus sang idola. Sayangnya Ronaldo mengabaikan permintaan Gosens.

Gosens meluangkan waktu dan sengaja tidak merayakan kemenangan timnya 3-0 atas Juventus. ”Setelah pertandingan melawan Juventus, saya mencoba untuk mewujudkan impian saya memiliki jersey Ronaldo,” kata pemain kelahiran 5 Juli 1994, dikutip Football Italia.

Namun kenyataan berbicara lain. “Tapi [sepertinya] Ronaldo tidak menerimanya.” Dia bertanya kepada Ronaldo, “Cristiano, bolehkah saya meminta baju Anda?” “Dia bahkan tidak melihat saya dan dia hanya berkata: Tidak!” jelasnya. Gosens merasa tercampakkan, nyengir dan pergi menjauhi Ronaldo. Peristiwa itu dituangkan dalam bukunya berjudul Träumen Lohnt Sich (Dreaming is Worth It).

Photo by RF._.studio from Pexels

Tetapi kenyataan menjadi berbeda di Sabtu sore waktu Munich itu. Gosens tampil sebagai pahlawan negaranya. Dia memainkan peran penting ketika Jerman menundukkan Portugal yang diperkuat Ronaldo 4-2, pemain idola Gosens. Tidak hanya memberi umpan yang melahirkan gol, pemain bernomor punggung 20 ini bahkan mencetak gol ke gawang Portugal.

Akhir pekan itu, Gosens menjadi motor Jerman meraih martabatnya sebagai tim elit Eropa. Setelah sebelumnya kalah dari Prancis 0-1, Jerman berada di posisi sulit. Namun kemenangan itu menjadi penyemangat timnya lolos ke babak penyisihan grup. “Kemenangan ini berarti segalanya bagi saya. Seluruh tim bergerak ke arah yang sama hari ini dan kami menghargai diri kami sendiri atas semangat tim,” kata Gosens usai laga. Sementara Ronaldo meratapi kekalahan timnya.

Menjadi polisi

Sore itu, Gosens bukan hanya layak mendapatkan kaus Ronaldo. Kausnya sendiri layak diperebutkan penonton di laga itu. Dia mungkin lupa kalau dirinya sendiri menjadi idola banyak orang, tidak saja orang-orang sekitarnya, tetapi juga warga Jerman. 

Barangkali sebagian keluarganya yang berkebangsaan Belanda juga ikut merayakan kegemilangan Gosens. Ini wajar karena selama ini dia memegang paspor Jerman dan Belanda. Gosens adalah anak dari pasangan seorang ibu Jerman dan ayah Belanda. Ia memilih membela tim Jerman karena di negara ini dia dilahirkan dan dibesarkan.

Ketika Gosens masih muda, dia ingin menjadi polisi, seperti kakeknya. Namun, seorang polisi memberitahunya bahwa kakinya terlalu tinggi untuk ukuran polisi. Ia lalu mengejar cita-citanya yang kedua ; berkarir sebagai pesepakbola profesional. Pilihannya yang kedua ini tidak salah, masa depannya sebagai pemain profesional masih terbuka lebar setelah tampil gemilang di hadapan belasan ribu penonton di Munich.

Meski tidak bermain penuh 90 menit, kontribusi Gosens untuk kemenangan Jerman sangat besar. Pada menit ke-63 saat Joachim Loew menggantinya ke luar lapangan, penonton menggelorakan namanya. Dia membalas dengan tepuk tangan menghadap penonton. Sang pahlawan meninggalkan lapangan, sementara idola Gosens yakni Ronaldo masih tetap bermain berusaha mengubah keadaan. Sayangnya kekalahan Portugal tak terelakkan.

Pemain Jerman meluapkan kegembiraannya setelah lahir gol keempat tim tersebut ke gawang Portugal. Foto hasil tangkapan layar dari situs uefa.com dengan kredit UEFA via Getty Images.

Kemenangan tim

Joachim Löw, pelatih Jerman, saat berbicara kepada EURO2020.com bangga dengan pencapaian malam itu. “Kami sedikit bicara dalam beberapa hari terakhir. Kami masih mencari keseimbangan setelah pertandingan Prancis. Kami harus menciptakan lebih banyak peluang. Kami berjuang dengan brilian dan menunjukkan moral yang hebat. Kami memiliki banyak peluang,” kata Loew.

Kemenangan itu membangkitkan moral semangat pemain Jerman setelah di laga sebelumnya kalah dari Prancis 0-1. Thomas Müller, penyerang Jerman, berbicara kepada Magenta: “Kami sangat membutuhkan tiga poin ini dan kami memiliki nasib di tangan kami sendiri lagi. Tapi kami tidak boleh kehilangan fokus, Hungaria sangat canggung untuk dihadapi.”

Situs uefa.com menyebut, Jerman terakhir kali menjuarai Piala Eropa pada 1996 saat mengalahkan Cheko dengan skor 2-1. Pencapaian sebelumnya terjadi pada tahun 1972 dan 1980 ketika tampil dengan nama Jerman Barat. Bersama Spanyol, Jerman menjadi negara terbanyak pemegang tropi Piala Eropa.

Jerman juga menjadi tim nasional yang memenangkan laga terbanyak di semua laga turnamen Piala Eropa dengan 29 kemenangan. Dalam produktivitas goal, Jerman menjadi tim nasional tersebur nomor dua setelah Prancis. Mengutip sumber yang sama, jumlah goal yang tercipta selama gelaran Piala Eropa sebanyak 82 goal. Dan salah satu pencetak gol tersubur itu adalah Antoine Griesmann, dia berada di urutan ketiga setelah Christiano Ronaldo (Portugal) dan Michel Platini (Prancis).

Keunggulan tim Jerman diakui Fernando Santos, pelatih Portugal. Meski di awal laga Portugal bermain ” baik, bahkan melesakkan bola ke gawang lawan lebih dahulu, namun tim Jerman bermain lebih baik hingga akhir pertandingan. “Jerman lebih baik tetapi kami memiliki pijakan dalam permainan. Kami memiliki peluang kedua pada serangan balik yang bisa menjadi gol dan itu bisa berubah secara berbeda,” kata Santos.

Pengakuan serupa disampaikan Danilo, gelandang Portugal. Hasil laga di Munich itu berat bagi timnya untuk lolos dari fase penyisihan grup. “Ini hasil yang berat, kami tidak bisa menangani taktik Jerman dengan baik. Mereka berhasil menguasai banyak bola dan bermain di lini tengah kami. Di babak kedua kami bereaksi, tapi tidak cukup,” kata Danilo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s