Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Screen shot ulasan yang muncul di kompas.id pada 17 Februari 2019.

Semua tampak biasa saja mencermati paparan pasangan calon presiden dan wakil presiden saat berada di panggung debat. Namun, ketika mereka berkata-kata, sebenarnya ekspresi wajah kandidat ikut ”menyampaikan sesuatu”. Sebagian ahli menyebut, di sanalah kebenaran sebenarnya ada.

Pembacaan ekspresi mikro pada wajah seseorang ini dapat disaksikan di drama seri Lie To Me (2009-2011). Drama ini mengusung slogan the truth is written on all our faces atau kebenaran tertulis di semua wajah kita. Pesan yang ingin disampaikan dalam drama ini adalah kata-kata bukanlah segalanya. Kata-kata itu perlu diselaraskan dengan ekspresi mikro dengan pendekatan facial action coding system (FACS) atau sistem kode pada wajah.

Dengan modal itu, tokoh utama yang bernama Cal Lightman (diperankan Tim Roth) dan Gillian Foster (diperankan Kelli Williams) membantu aparat membongkar sejumlah kasus kejahatan di Amerika Serikat.

Salah satu aksi mereka terlihat saat Lightman berhadapan dengan tersangka kejahatan ketika ia dilarang bicara oleh pengacaranya. Lightman memancing tersangka dengan sejumlah pertanyaan tanpa mengharapkan dia berkata-kata.

Melalui gerak bahu, kedipan mata, kerutan jidat, dan gerak bibir, Lightman bisa menyimpulkan dialah pelakunya, seperti yang terlihat di episode pertama sesi pertama drama.

Ekspresi mikro makin dikenal orang ketika ilmuwan Amerika Serikat, Paul Ekman, bersama rekannya, Wallace V Friesen, memopulerkannya tahun 1978. Melalui ekspresi mikro wajah seseorang akan terlihat ekspresi senang, sedih, terkejut, marah, takut, jijik, dan muak. Ekspresi yang bersifat universal ini muncul sepersekian detik saat orang berkata-kata atau beraksi atas perkataan orang.

Beberapa adegan menarik pada debat pertama, Kamis (17/2/2019) lalu, terjadi saat Prabowo menanyakan sikap pemerintah saat ada aparat desa yang diproses hukum. Penyebabnya, aparat itu mendukung pencalonan pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menanggapi hal ini, Joko Widodo menyampaikan, ”Kalau ada bukti, sampaikan saja ke aparat hukum. Jangan grusa-grusu (terburu-buru) menyampaikan sesuatu.” Demikian diungkapkan Jokowi dengan alis mata naik.

Baca di sini : Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Handoko Gani, analis kebohongan lulusan Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris, menilai kedua pihak sedang menguji argumentasi lawan debat. Pada titik ini, ekspresi nonverbal menjadi faktor penting daripada sekadar kata-kata. Handoko menduga, alis Jokowi yang naik ketika itu terjadi untuk memberi penegasan sebuah pernyataan. Naiknya alis ini, kata Handoko, menjadi ciri khas Jokowi ketika menekankan sesuatu di hadapan publik.

Adegan berikutnya tak kalah seru. Jokowi menanyakan komitmen Prabowo dalam memberantas korupsi, terutama karena sejumlah calon anggota legislatif yang diajukan oleh Gerindra di Pemilu 2019 adalah mantan koruptor.

”Yang saya tahu, caleg itu yang tanda tangan adalah ketua umumnya. Bagaimana Bapak menjelaskan mengenai ini,” kata Jokowi sambil menuding-nudingkan tangan ke arah Prabowo. Seperti diketahui, Prabowo juga menjabat Ketua Umum Gerindra.

Namun, Prabowo mengaku tidak tahu mengenai hal tersebut. ”Baik itu (mata kanan berkedip), mungkin ICW, saya sendiri belum dapat laporan itu (kedua mata berkedip berkali-kali). Dan, itu benar-benar saya kira sangat subyektif, saya tidak (mata kembali berkedip), saya tidak setuju itu (mata berkedip). Saya seleksi (mata kembali berkedip) caleg-caleg itu. Kalau ada bukti silakan laporan ke kami.”

Suara Prabowo lalu meninggi. ”Kalau ada kader Partai Gerindra korupsi, saya akan memasukkan ke penjara sendiri.” Meski waktu masih tersisa, Prabowo menolak memberi penjelasan lebih panjang. ”Cukup. Pokoknya kita antikorupsi!”

Memancing ekspresi

Jokowi kembali memancing ekspresi Prabowo. Dia mengulangi data ICW bahwa ada enam caleg mantan koruptor di Gerindra. Saat Jokowi memiliki waktu menjelaskan, Prabowo meminta kepada Ira Koesno untuk menyela. ”Boleh menjawab?”

Ira merespons, ”Tidak boleh.” Ini karena belum tiba saat Prabowo untuk menanggapi pernyataan Jokowi. Sejurus kemudian Prabowo menari. Tangan dan tubuhnya meliuk seperti penari.

Handoko menyebut, debat sebenarnya adalah ajang pasangan calon memancing reaksi lawan debat melalui pertanyaan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Cara ini dapat mendorong lawan debat menunjukkan ekspresi mikro tanpa sadar. Adapun ketidaksinkronan ekspresi mikro dengan pernyataan seseorang bisa diindikasikan pernyataan itu tidak sesuai fakta.

Mengutip Paul Ekman dalam bukunya, Mendeteksi Kebohongan (Penerbit Baca, 2009), pemalsuan atau penyembunyian informasi yang sebenarnya bisa disempurnakan dengan tindakan. Dengan demikian, seolah-olah informasi yang disampaikan adalah kebenaran.

Mengapa hal ini bisa terjadi, sementara jadwal debat sudah ditentukan Komisi Pemilihan Umum jauh-jauh hari? Tim sukses seharusnya memiliki waktu cukup untuk menyiapkan kandidat tampil semaksimal mungkin.

Secara umum, pada debat pertama, Handoko menangkap ekspresi Jokowi relatif stabil selama di panggung. Selain alis mata yang naik turun, Jokowi juga sempat menuding-nudingkan tangannya ke arah Prabowo. Dua hal ini dapat dianggap sebagai keinginan untuk memberi penegasan pada pernyataan yang disampaikan.

Sementara itu, Prabowo sempat memperlihatkan senyum dengan menarik sudut bibir atau biasa disebut duping delight. Senyum ini dapat diartikan sebagai perasaan menang dengan jawaban-jawabannya.

Senyum duping delight pernah diperlihatkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada 26 Januari 1998 silam saat menyangkal berhubungan seks dengan mantan anggota staf Gedung Putih, Monica Lewinsky, di Washington DC, AS. Penyangkalan ini kemudian terpatahkan. Clinton dan Lewinsky ternyata melakukan hubungan di luar nikah setelah Lewinsky dan sejumlah warga memberikan keterangan di pengadilan. ”Saya telah mengatakan, saya membuat satu kesalahan yang buruk dan ini tidak dapat dipertahankan,” kata Clinton ketika berada di Dublin, Irlandia Utara (Kompas, Sabtu (5/9/1998).

Kebocoran

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menggunakan istilah bocor untuk menyebut sikap yang tidak terkontrol di panggung debat. Kebocoran emosi terlihat dari sikap kandidat yang grogi, gelagapan, atau gerak tubuh aneh yang tidak relevan. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai sikap untuk menutupi kegugupan karena tidak siap diserang lawan debat.

”Kebocoran emosi atau emotional leaks terjadi karena orang tersebut tidak nyaman atau terganggu emosinya,” kata Hamdi.

Melalui panggung debat, dia mengharapkan publik bisa mempertimbangkan pilihannya dengan cermat. Selain rekam jejak dan kapasitas calon, juga perlu menakar bagaimana mereka menanggapi pertanyaan di depan publik.

”Semakin tajam pertanyaan semakin baik, semakin jelas dasar argumen kandidat ketika menjawab, semakin kuat basis datanya, semakin jelas elaborasinya, semakin yakin pemilih bahwa program yang ditawarkan bagus,” lanjutnya.

Baca di sini : Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Monica Kumalasari, praktisi pemerhati ekspresi mikro, juga menangkap sejumlah ekspresi penting saat debat. Terangkatnya alis mata Jokowi disebut sebagai sikap untuk menegaskan ucapannya. Hal ini sejalan dengan adanya pengulangan kata-kata pada segmen kedua. ”Negara hukum ini, mengapa harus menuduh-nuduh seperti itu,” kata Jokowi saat menanggapi pernyataan Prabowo.

Monica menangkap ada ”sesuatu” pada kedipan mata Prabowo yang lebih sering dari kondisi normal saat Jokowi bertanya tentang caleg koruptor. Menurut dia, kedipan mata orang dalam kondisi normal terjadi setiap empat detik sekali. ”Ada kemungkinan Pak Prabowo tidak percaya dengan penjelasan,” katanya.

Malam itu, debat digelar dalam enam segmen dengan tema hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Adapun jalannya acara dipandu Ira Koesno dan Imam Priyono. Ira adalah mantan jurnalis televisi swasta, sedangkan Imam merupakan jurnalis TVRI. Imam Priyono menyampaikan pengalamannya bahwa malam itu tidak ada yang didesain terkait ekspresi nonverbal para kandidat. ”Semua ekspresi muncul begitu saja,” kata Imam.

Masih ada kesempatan untuk menyaksikan ajang debat-debat berikutnya. Semoga Anda menemukan kejujuran di sana.

Kebiasaan Baru Menteri Kabinet Kerja

Ada kebiasaan baru yang terlihat pada menteri Kabinet Kerja. Kebiasaan ini muncul pada saat mereka mengawali pidatonya di depan Presiden Joko Widodo. Sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat, kini sebagian menteri mulai terbiasa meneriakkan yel yel. Inilah ceritanya…

Yel Yel Penyemangat Acara

Banjar Baru, Kompas – Sebulan tetakhir, ada yang baru dalam kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Jika sebelumnya pidato-pidato menteri itu langsung disampaikan, kini tidak lagi Menteri memekikkan yel yel penyemangat. Warga yang menghadiri acara pun ikut tergerak, acara Presiden pun diawali dengan pekik yel yel.

Sejak dilantik sebagai Menteri Pendidikan 27 Juli 2016, tidak pernah terlihat oleh penulis meneriakkan yel-yel di acara resmi. Namun belakangan Muhadjir mulai menggunakan yel. Setelah melakukanya di sejumlah tempat sebelumnya, hari Senin (26/3) ini Muhadjir melakukannya di Lapangan DR Murjani, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Di depan hadirin penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan program sertifikasi guru, Muhadjir mengawali pidato seraya mengatakan kwinginanya untuk membuat acara lebih meriah. “Seperti tadi yang diajarkan Menteri Sosial Idrus Marham, mari kita teriakkan yel yel dulu,” pinta Muhadjir kepada hadirin.

Lalu Muhadjir menuntun hadirin sambil mengatakan, “Siapa kita ?” Hadirin menjawab, “Indonesia !” “Indonesia !” Jawabnya, “Sehat dan Kuat !” “Siapa Presiden Kita ?” Jawabnya, “Haji Jokowi !”
Presiden yang menyaksikan yel-yel iti tersenyum. Begitu pum Idrus Marham yang mengusulkan adamya yel.

Mihadjir juga melakukamnya di Gedung Olah Raga (GOR) Tri Dharma, Gresik, Jawa Timur pada 8 Maret 2018 lalu. Tidak hanya Muhadjir, beberapa menteri lain juga meneriakkan yel-yel serupa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukanya saat Presiden melakukan kunjungan di Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018.

Saat itu Darmin menyampaikan, “Siapkah kita menyampaikan ucapan selamat datang kepada bapak Presiden?” Hadirin menjawab, “Siap !” “Saya hitung satu, dua, tiga !” Semua yang hadir menjawab, “Selamat datang bapak Presiden dan Ibu Iriana !” Hadirin menyambungnya dengan tepuk tangan.

Kebiasaan baru ini, menurut berbagai sumber berita yang sering mengikuti kegiatan Presiden, diawali oleh Menteri Sosial Idrus Marham di Padang, 8 Februari 2018. Setelah itu, sejumlah menteri mulai melakukan yel yel saat mengawali pidatonya.(NDY)

Haul. ulama besar, yg sanfat sihormati. i8ta lihat kemarin brapa juta yang datang. empat tahun lalu saya pernah ke sekumpul. dan kemudian tadi malam saya ke sini lagi.

Kepala Kantor Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko enggan mengomentari bursa Cawapres yang sedang ramai dibicarakan. Menurut Moeldoko, dia tidak terlalu mengikuti bursa pencalonan itu. “Saya tidak tahu, tidak mikir. Saya masih konsentrasi dengan tugas saya,” kata Moeldoko.

Mereka Membuat Gagap Pengambil Keputusan

trio copy

Caption foto : Dari kiri Travis Kalanick pendiri Uber, Nadiem Makarim pendiri Go-Jek, dan Anthony Tan pendiri Grab. Foto diambil dari http://www.e.27.co, http://www.iese.id, dan http://www.iava.org.

Sampai hari ini, Kamis (24/3) saya belum bisa menerima, kekerasan yang terjadi di Jakarta, Selasa (22/3) lalu. Kekerasan itu begitu massif, para sopir angkutan konvensional berhadap-hadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Sesama sopir angkutan pun terlibat konflik. Sementara penumpang terlantar dan tercekam rasa takut.

Siang itu, banyak sopir marah karena penghasilannya “terampas” kehadiran angkutan berbasis aplikasi. Mereka menggalang solidaritas untuk mogok, yang tidak mogok dihajar, mobilnya dirusak. Sementara saat berhadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi, mereka terlibat tawuran, saling kejar. Lalu, siapa yang salah ?

Tulisan ini tidak ingin mencari kesalahan siapa, namun ingin membawa kesadaran kita bahwa perubahan sedang terjadi begitu cepat dan dinamis. Perubahan ini yang ternyata lambat dipahami oleh banyak orang, dalam kasus ini adalah perusahaan transportasi dan pemerintah.

Penumpang angkutan mana yang tidak tergiur layanan yang nyaman, ada kepastian harga, dan murah. Ketika ada layanan ojek yang menawarkan jasa tanpa harus adu mulut soal harga lebih dulu, orang mulai berlari memilihnya. Begitu pun ketika hadir angkutan mobil dengan layanan seperti sopir pribadi, bahkan seperti memiliki mobil sendiri dengan tarif jauh di bawah tarif umum taksi, siapa yang tidak tertarik.

Bukankah mereka menerabas aturan yang sudah lama ada ? Pertanyaan ini bisa berbuntut diskusi panjang, tetapi ada hal lain yang patut dicermati. Regulasi, apapun itu, termasuk di sektor transportasi, yang membuat adalah manusia, yang menggunakan manusia, apakah tidak mungkin diubah sejalan dengan kompleksitas perubahan zaman. Saya lebih tertarik ketika ide-ide baru muncul dalam ekonomi yang disebut akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali, sebagai eranya sharing economy.

Dengan menerapkan sharing economy maka banyak hal menjadi murah. Tidak perlu ada korporasi besar, tempat parkir kendaraan, koordinator timer, atau segala perangkat lain yang ujungnya menambah biaya operasional. Karena kendaraan milik orang per orang, dapat diparkir di rumahnya sendiri, tanpa ada biaya operasional lain, cukup dengan panduan teknologi digital, angkutan penumpang berbasis aplikasi dapat beroperasi.

Bagaimana dengan legalitas mereka ? Ini yang harus diantisipasi pemerintah. Ketika konsumen membutuhkan, maka pemerintah harus mewadahinya. Usaha ini bisa jadi akan terus menjamur, tidak hanya di sektor transportasi, di dunia perhotelan mulai muncul airBnB.com yakni bisnis kamar rumah bagi para pelancong. Model bisnis ini menarik pagi pelancong yang ingin bepergian ke tempat negara-negara mahal, karena harga kamar yang ditawarkan airBnB.com bisa lebih murah.

Di sektor perdagangan, sudah lama menjamur toko online (dalam jaringan). Fenomena ini memanjakan pembelanja tanpa harus keluar rumah dengan memilih banyak penyedia barang. Lalu, apakah mereka perlu ditutup dan diprotes karena menerabas banyak aturan ? Mereka nyata-nyata tidak bayar izin usaha perdagangan seperti tempat dagang lain di pusar perdagangan konvensional.

Semoga demonstrasi para sopir tidak dilanjutkan unjuk rasa pemilik hotel dan pemilik pertokoan modern. Sebelum itu terjadi, sebaiknya merenung sebentar, apa yang sesungguhnya terjadi saat ini.

Siapa mereka ?

“Biang kerok” dari semua ini adalah anak-anak muda yang penuh kreativitas. Pembawa perubahan yang tak henti-hentinya berinovasi mencari peluang dengan bantuan teknologi digital. Dunia bisnis seakan tak berbatas di mata mereka, aktivitas dagang tidak mengenal waktu, birokrasi yang ribet mereka lipat seakan tak ada penghalang, maka wajar jika ada yang mengatakan mereka telah menerabas tatanan yang sudah lama ada.

Adalah Travis Cordell Kalanick pria Amerika Serikat kelahiran 6 Agustus pendiri Uber di San Fransisco. Pada awalnya Kalanick ingin memudahkan pengguna angkutan mencari kendaraan yang ditumpanginya tanpa harus capek-capek keluar rumah dan berdiri di tepi jalan. Kalanick, mendirikan Uber tahun 2009 untuk memediasi para pemilik kendaraan dengan penumpangnya.

Pria berusia 39 tahun ini pada tahun 2014 oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 290 dari 400 orang kaya yang terdata. Ketika itu, nilai kekayaannya mencapai 6 miliar Dollar AS dan kini semakin bertambah seiring meluasnya Uber di berbagai kota di dunia, termasuk Jakarta dan Denpasar. Tidak hanya di Jakarta, Uber juga dikecam di negara-negara Eropa bahkan di kota kelahirannya sendiri San Fransisco.

Salah satu pernyataan Kalanick tentang bisnisnya adalah “Saya sangat fokus, pro-efisiensi, dan ingin kegiatan ekonomi berjalan dengan harga serendah mungkin. Ini baik untuk semua orang, itu bukan persoalan merah atau biru,” seperti dikutip http://www.businessinsider.co.id.

Konsep ini yang kemudian menular hingga lahir Go-Jek Indonesia pada bulan Maret 2014. Go-Jek didirikan Nadiem Makarim, warga Indonesia yang lahir di Singapura 4 Juli 1984. Sama halnya dengan Kalanick Go-Jek mengidentifikasi dirinya sebagai perusahaan teknologi, bukan perusahaan penyedia jasa. Kehadirannya di ibu Kota sempat dikecam, beredar larangan naik Go-Jek di perumahan-perumahan warga. Kini pengemudinya makin banyak, jika tidak salah lebih dari 200.000 orang. Tidak hanya mengantar orang, Go-Jek juga menyediakan jasa pesan antar, pijat, dan belanja lewat teknologi digital.

Serupa dengan Grab, perusahaan ini didirikan teman se kampus Nadiem, yaitu Antony Tan. Pria Malaysia berumur 35 tahun ini melebarkan jaringan bisnis di sejumlah negara Asia Tenggara. Di Jakarta, nasib pengemudi Grab serupa dengan pengemudi Go-Jek sempat mengalami ancaman di banyak tempat.

Sampai hari ini, pemerintah belum mengakui legalitas Uber, Go-Jek, maupun Grab. Hanya saja, pemerintah membiarkan mereka beroperasi karena, belum menemukan cara yang tepat memperlakukannya. Rapat terakhir di Kantor Kementerian Koordinator Politik dan Hukum, Rabu (23/3) belum menghasilkan keputusan kongkret.

Sejalan dengan dinamisnya perubahan dan perkembangan zaman, sebaiknya sama-sama tanggap dengan itu semua. Semoga mereka yang punya kuasa, tidak bingung lagi dengan kreativitas baru yang akan hadir nanti.

(Andy Riza, Jurnalis)

 

Wawancara Narasumber “Bisu”

wawancara foto

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo dalam sebuah diskusi menanyakan kepada kami para jurnalis, apa yang kalian lakukan jika narasumbermu seorang yang bisu. Memaksanya bicara tidak mungkin, mempersilahkan menggunakan bahasa isyarat boleh jadi bisa. Tetapi seberapa banyak dan mendalam informasi yang bisa digali dengan mengandalkan cara-cara biasa ?

Menurut saya, pertanyaan tersebut mengandung kritik pada sebagian jurnalis yang terlalu mengandalkan omongan narasumber. Bahwa yang disampaikan narasumber merupakan satu-satunya bahan membuat berita. Kebiasaan kerja seperti ini disebut Budiman sebagai jurnalisme ‘katanya.’ Dengan kata lain, tanpa pernyataan narasumber, maka sebagian jurnalis bakal kelimpungan membuat berita. Jurnalisme katanya ini yang kemudian menyederhanakan penggalian berita, seolah-olah, hanya dari mulut narasumber lah berita keluar. Padahal tidak demikian seharusnya.

Selama menjalankan tugas liputan, jurnalis selalu dituntut kreatif. Jika hanya mengandalkan pernyataan narasumber, maka tidak bakal bunyi bahan berita yang disusun. Bahkan juga tidak akan menemukan konteks pernyataan narasumber. Beberapa menteri, bahkan Presiden Joko Widodo sendiri jarang sekali memberi pernyataan panjang lebar. Begitu pun bagi rekan-rekan jurnalis yang meliput di bidang kriminal, kemampuan menggali berita selain dari yang disampaikan narasumber menjadi sebuah tuntutan.

Tidak hanya pejabat negara, pernyataan polisi, atau tersangka kasus kriminal misalnya, kerap tak memuaskan. Lewat petunjuk yang secuil itu jurnalis harus bergerak, mengembangkan kemampuannya menggali informasi.

Cara yang sering diajarkan para mentor adalah mengasah kemampuan deskriptif ; situasi yang sedang terjadi, mengamati pakaian narasumber, mimik wajah, intonasi suara, perhiasan yang dipakai, tinggi badan, orang yang ada di sekitarnya, atau deskripsi lain yang banyak sekali ragamnya. Tidak kalah penting dengan itu, mengulas sebuah berita perlu membiasakan dengan riset literatur tentang persoalan yang diulas. Ternyata ada lagi yang lain…

Ekspresi mikro

Di sini, saya ingin bicara salah satu pendekatan kreatif yang lebih spesifik. Sejak pertengahan tahun 2015 lalu, saya mulai menggunakan teori ekspresi mikro (micro expression) sebagai salah satu cara mengulas persoalan di media tempat saya bekerja. Pendekatan itu membantu saya menganalisa yang kira-kira terjadi pada narasumber yang saya ulas. Hasilnya, tanpa harus menanyakan banyak hal pada narasumber, saya bisa mendapatkan banyak hal.

Analisa ini dipopulerkan peneliti Paul Ekman dan Wallace V Friesen tahun 1970 an. Para peneliti itu menyebutkan ada tujuh tanda emosi universal antara lain kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Emosi ini spontan muncul tanpa bisa dikontrol dan disadari. Tanda-tanda ini, oleh para peneliti dapat dilihat dari raut muka dan gerak tubuh narasumber yang akan diulas.

Melalui pisau analisa itu, saya mencoba menggunakan teori ekspresi mikro lewat bantuan praktisi Handoko Gani, analis kebohongan lulusan University of Central Lancashire, Manchester, Inggris. Melalui Handoko, saya menganalisa kegaduhan politik nasional di akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015 lalu. Kegaduhan politik terjadi ketika Presiden Joko Widodo mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Namun, tanpa diduga, tiga hari pasca pencalonan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Budi sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi.

Ketegangan antara KPK dan Polri memuncak. Presiden diminta ketegasannya mengambil sikap. Tetapi tidak banyak pernyataan yang muncul dari mulut Presiden. Publik hanya dapat sepenggal pernyataan tanpa mengerti hal apa yang sebenarnya terjadi pada Presiden. Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi pada Persiden ? Ini yang harus dikejar.

Analisa kami fokuskan pada peristiwa yang terjadi pada rentang waktu 23-29 Januari. Kami sama-sama melihat rekaman video yang terjadi hari Jumat (16/1), saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan Budi. Ketika itu alis mata Presiden turun, sorot mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, dan kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu. Hipotesa Handoko menyebutkan Presiden sedang marah pada situasi yang berlangsung.

Jumat (23/1), Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang jumpa pers, alis Jokowi dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik. Baru pada hari Kamis (29/1), di Istana Bogor, saat Presiden bertemu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto, kemarahan itu mulai reda.

Pisau analisa serupa juga saya pakai ketika melihat “kejujuran” Presiden saat bertemu rakyat biasa dan kalangan elit. Ternyata Presiden lebih jujur bersikap ketika bertemu dengan orang-orang biasa. Hal itu terihat dari ekspresi mikro di raut muka, senyum, dan sorot matanya. Peristiwa ini saya ulas dalam harian Kompas terbitan edisi, Sabtu 19 September 2015 dengan judul, “Presiden Saat dengan Elite dan Rakyat.”

Hal serupa saya manfaatkan ketika mengulas skandal Freeport yang melibatkan nama-nama penting. Ketika itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia merekam pembicaraan antara dirinya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha Muhammad Riza Chalid. Masih dibiantu Handoko Gani, saya mengulas ekspresi muka nama-nama yang dominan disebut dalam rekaman suara itu. Hasil ulasan ini termuat di harian Kompas, 7 Desember 2015 dengan judul, “Ekspresi Mereka yang Ada dalam Rekaman.”

Salah satu bahan yang perlu disiapkan untuk membuat analisa seperti ini adalah rekaman video. Lewat video tersebut, gerakan kecil dapat dilihat berulang-ulang lalu mencocokkan dengan teori yang dipakai. Gerakan kecil yang terjadi dalam hitungan detik sangat menentukan sebuah hipotesa, seperti ketika Handoko menyampaikan hipotesanya terhadap tersangka pembunuh Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso. Jessica tertangkap kamera tersenyum, senyum kemenangan usai peristiwa itu. Hipotesa ini bukan kesimpulan, namun dapat menjadi pertimbangan penyidik menelusuri jejak pelaku.

Jadi, jika anda sedang melakukan wawancara dengan narasumber bisu sekali pun, tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan. Masih banyak hal yang bisa anda lakukan. (Andy Riza, jurnalis)

Peristiwa di Minggu Pagi

Peristiwa di Minggu Pagi

Drama pagi itu, 7 Februari 2016, dimulai sesaat sebelum subuh, sekitar pukul 04.30. Setelah azan, saya putuskan ke rumah sakit di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Ketika itu, istri saya merasakan perutnya semakin kencang, kontraksi sudah beraturan, dan tandanya harus segera mengambil keputusan.

Inikah ujung dari penantian yang sudah berjalan 38 minggu empat hari ? Hari itu, dokter Ismail Yahya, dokter kandungan yang memeriksa istri saya, memprediksi hari persalinan jabang bayi di dalam perut istri. Saya berharap semua berjalan lancar, sehat, itu saja dulu. Saya masih kepikiran kondisi istri saya sebelum persalinan yang sempat mengkhawatirkan.

Tepat sepekan sebelumnya, 1 Februari, istri saya harus menjalani rawat inap karena terserang virus tipus. Saya khawatir, sebab sudah memasuki minggu-minggu persalinan.

Pagi itu, saya kuatkan, harapan saya panjatkan, selanjutnya saya berserah diri pada sang penyelenggara kehidupan. Sesampainya di RS Buah Hati, Pamulang, saya langsung menuju Instalagi Gawat Darurat dan menyampaikan bahwa istri saya sepertinya akan melahirkan.

Layanan tak berlangsung lama, istri masuk ke ruang persalinan dan ditangani bidan. Menurut bidan, saat itu istri sudah pembukaan empat. Setengah jam kemudian meningkat menjadi pembukaan enam, dan sekitar pukul 07.00 pembukaan delapan. Saya telepon ibu mertua, ayah, dan saudara-saudara lain meminta doa.

Sekitar pukul 07.30, istri saya mengerang sakit, puncak sakit setelah berbulan-bulan mengandung jabang bayi. “Ambil napas panjang, keluarkan pelan-pelan. Sekarang boleh mengejan, tahan, kumpulkan tenaga,” kata bidang.

“Oekk, oekk,” tangis bayi memecah ketegangan. “Laki-laki!” kata bidan. Aku lega, mataku berlinang, tapi tak sampai jatuh menetes. Istriku mengangis. Aku bersyukur anak lanang akhirnya lahir ke dunia, menemani kami sekeluarga. Dia adalah anak ketiga setelah sebelumnya lahir dua perempuan cantik menemani hidup kami.

Sepekan setelah kelahirannya, kami sepakat memanggilnya Alan, anak lanang. Namanya belum kami sepakati secara final, bukan apa-apa, kami ingin benar-benar menyematkan nama yang bagus, sebesar harapan kami padanya kelak.

Bojongsari, 14 Februari 2016

Burung Hendak Terbang

Mas Cahyo Pramono, sahabat ngobrol saya dari Medan Sumatera Utara melontarkan teka-teki. Saat ngobrol melalui telepon, kami saling memberi kabar, menanyakan akivitas saat ini yang sedang dijalani. Mas Cahyo, salah satu teman ngrobol saat berada di Medan (empat tahun di sana), sering memberi inspirasi lewat kata-katanya.

Sore itu, di akhir Januari 2016, saya sampaikan, mengapa banyak sekali keinginan saya yang masih tinggal rencana. Padahal semua keinginan itu terasa meyakinkan, keren, dan syaa bayangkan, jika berhasil merealisasikan, akan memperbaiki kehidupan saya.

Saya kerap jenuh dengan rutinitas yang mekanis, membelenggu dari pagi hingga malam, nyaris tidak ada ruang untuk melakukan hal-hal lain. Saya tahu, itu karena manajemen waktu saya yang belum bagus. Begitu pun juga dengan manajemen kerja yang belum rapi. Sesibuk apapun orang, jika mampu mengelolanya, pasti bisa melakukan hal-hal lain.

Berdalih rutinitas yang membelenggu itu, saya sampaikan, saya belum bisa merealisasikan impian kecil, sedang, hingga besar yang saya simpan.

Tak banak kata, Mas Cahyo langsung melontarkan teka-teki. “Coba tebak, ada lima ekor burung bertengger di dahan pohon. Tiga di antaranya hendak terbang. Tinggal berada di dahan pohon itu ?” tanyanya.

Saya jawab, tetap ada lima. Sebab tiga ekor burung itu masih “hendak” terbang. Mereka belum terbang. “Nah, kamu benar. Sebaiknya kamu jangan seperti burung itu. Jika hanya ‘hendak’ melakukan sesuatu, sesuatu yang kamu bayangkan takkan terwujud,” kata Mas Cahyo.

Lakukan saja. Saya merenungkan cerita itu. Memang benar adanya.

Salam, Jakarta, 1 Februari 2016.

Menulis Ulang Kegelisahan Jurnalis

Kegelisahan melanda sebagian jurnalis saat ini. Ada perubahan besar yang sedang terjadi. Perubahan itu meliputi tradisi baca penyimak berita, pengiklan, dan kemudian diikuti kultur perusahaan media.

Perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi pada sajian produk jurnalistik yang mulai beda. Di sejumlah platform, produk jurnalistik disajikan dengan satu standar utama, yakni kecepatan. Standar utama yang saya maksud mendominasi standar lainnya yang menjadi pelengkap yaitu akurasi dan kedalaman.

Di sini, saya tidak akan mendiskusikan benar salah maupun baik buruk. Tetapi saya sedang mengutarakan kenyataan yang harus dicari solusinya. Agar, jurnalisme tetap menjadi tumpuan masyarakat yang memberi arah dan pencerahan. Jika tidak, maka jurnalisme akan ikut arus omongan orang atau peristiwa sumir yang belum tentu menyentuh akar persoalan.

Saya tergerak menulis tentang ini setelah membaca tulisan Mas Bre Redana, senior saya di Kompas pada hari Minggu (27/12) kemarin. Tulisan berjudul “Inikah Senjakala Kami…” itu menjadi bahan diskusi di sejumlah media sosial. Mas Bre mengkritik tradisi jurnalis yang mulai pragmatis, mengambil gampangnya saja, karena ingin mengejar kecepatan penyajian berita. Tentunya, kenyataan ini tidak terjadi paa semua jurnalis. Masih ada jurnalis yang ingin mengejar kedalaman dan mau melakukan pengayakan informasi sebelum menyajikan berita. Namun sampai kapan tradisi ini bertahan….

Andy Riza Hidayat, Depok 28 Desember 2015

Inilah tulisan Mas Bre di Kompas Minggu 27 Desember 2015

CATATAN MINGGU

Inikah Senjakala Kami…

Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat. Terakhir, di penghujung tahun, Ignatius Haryanto, pengamat pers yang luas referensinya, salah satu anggota Forum Ombudsman surat kabar kami, memberikan notifikasi dengan judul Senjakala Suratkabar di Indonesia?. Pertanyaan lebih lanjut ia ajukan: apakah ini akhir dari peradaban surat kabar cetak saat ini?

Faktor-faktor yang mendasari pertanyaannya berupa kondisi yang niscaya sudah diketahui banyak orang, antara lain perkembangan teknologi digital. Ini membawa konsekuensi bisnis. Pengiklan memilih berinvestasi pada media yang lebih gemebyar seperti televisi, dengan penyiar yang kinyis-kinyis, berikut kru lapangan yang militan, sampai kalau perlu mengabaikan tata krama.

Harus diakui, media cetak, koran, majalah, buku, kebiasaan membaca yang mendasari tradisi dan terbentuknya sivilisasi manusia sampai penghujung milenium kedua, sebagian kini tinggal kenangan belaka. Termasuk jurnalisme.

Di mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor.

Kalau kemudian muncul sekolah atau pendidikan jurnalisme, itu semata-mata reaksi pedagogis dari kesadaran akan kurangnya endorsement akademik pada bidang pekerjaan ini. Pada perkembangannya, namanya bukan lagi jurnalisme, tapi ilmu komunikasi, komunikasi sosial, marketing dan komunikasi, dan lain-lain. Spektrum pendidikannya terus meluas, kini mencakup multimedia dengan multiplatformnya, atau di masa mendatang entah apa lagi, karena yang sekarang pun saya kurang paham apalagi yang akan datang.

Inilah era baru dunia media masa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik.

Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia public relations menuturkan, enak menghadapi wartawan sekarang. Tinggal sediakan press release. Mereka melakukan copy paste dari press release tadi apa adanya. Tidak perlu pusing menjawab pertanyaan, karena mereka tidak bertanya. Dalam press tour ke luar negeri untuk peliputan masalah tertentu, pertanyaan hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan, belanja.

Dalam konstelasi baru media, koran disebut ”media konvensional”. Boleh jadi sekonvensional wartawannya, yang memegang notes, bolpen, mencatat yang diomongkan sumber berita. Wartawan media mutakhir tidak mencatat. Mereka khusyuk dengan gadget. Barangkali merekam, mencatat, atau bisa saja tengah berhubungan entah dengan siapa. Istilahnya: multitask. Sambil mendengarkan yang di sini, berhubungan dengan teman yang di sana, pacar, saudara, dan lain-lain.

Sikap seperti itulah yang tidak bisa diikuti wartawan konvensional. Kami tidak mendelegasikan otak kami pada alat rekam. Kami sadar akan signifikansi kehadiran, being there. Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan wawancara. Wawancara bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari jurnalisme, semacam dimensi nonteknis taruhlah moral, etik, dan kemanusiaan.

Tahun segera berganti. Inikah senjakala surat kabar? Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan manusia.