Misi Indonesia di Tengah Badai Gurun

Misi Indonesia di Tengah Badai Gurun

Lawatan Presiden Joko Widodo ke tiga negara di Timur Tengah dianggap sebagai upaya untuk membuka gembok pintu yang lama terkunci. Lawatan tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali hubungan erat yang pernah terjalin abad ke-13. Ketika itu, hubungan dagang saudagar nusantara dengan saudagar di Jazirah Arab sangat kental.

Namun kini, investasi negara-negara di Timur Tengah tergolong masih minim. Nilainnya masih kalah dominan dengan investasi dari Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Amerika Serikat. Seakan-akan, dana dari Timur Tengah sulit sekali masuk ke Indonesia. Mitos inilah yang akan dipatahkan oleh Presiden Jokowi saat bertandang ke Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, dan Qatar pada 11-15 September.

Misi dimulai dari Arab Saudi, negara berpenduduk 27,34 juta. Harapannya, setelah “menaklukkan” negeri itu, maka banyak negara di Jazirah Arab bisa menerima misi Indonesia.

Tiga bulan persiapan misi ke Arab Saudi, sempat diwarnai dengan ketidakpastian. Sebab pihak kerajaan baru memastikan kesiapan menerima kedatangan Presiden Joko Widodo dan rombongan sepekan sebelum keberangkatan. Informasi yang dihimpun Kompas, keluarga kerajaan sebelumnya masih melewatkan liburan di Amerika Serikat.

Sambutan ke Presiden

Meski terkesan mendadak, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis Al Saud tidak main-main menyambut kedatangan Presiden, Jumat (11/9) malam waktu setempat. Malam itu, negara penghasil minyak itu masih dilanda badai pasir. Bahkan angin kencang disertai pasir gurun meorobohkan alat berat di Masjidil Haram, Mekkah hingga menimpa ratusan jamaah calon haji.

Di tengah bencana itu, Raja Salman tetap datang ke Bandara Internasional Jeddah, menyambut Jokowi di depan pintu pesawat. Raja menyampaikan, malam itu sedang terjadi badai dan musibah di Mekkah. Upacara penyambutan yang sudah disiapkan batal.

Presiden memulai jadwal kenegaraan di Jeddah Sabtu (12/9). Dari pagi hingga malam hari, Presiden Jokowi harus menghadiri 13 pertemuan terjadwal dan satu pertemuan tidak terjadwal. Hari itu Presiden bertemu Raja Salman, jajaran menteri Kerajaan Arab Saudi, pelaku usaha, pimpinan organisasi internasional yang berkantor di Arab Saudi, serta tamu kenegaraan lain.

Dari Arab Saudi, terdapat sejumlah kesepakatan penting, di antaranya rencana investasi perusahaan perminyakan Arab Saudi yaitu Saudi Arabian Oil Co atau Saudi Aramco senilai total 14,3 miliar dollar Amerika Serikat, penambahan kuota haji 10.000 orang, permohonan peringanan hukuman Indonesia bari empat warga yang terancam hukuman mati, dan program investasi melalui pinjaman Islamic Development Bank (IDB).

Minggu (13/9) pagi, Presiden melanjutkan misinya ke Persatuan Emirat Arab (PEA). Pesawat mendarat di Bandara Internasional Abu Dhabi dan kali ini juga disambut langsung Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Mohammed bahkan meniadakan protokoler yang lazim diberlakukan di banyak negara.

Putra mahkota yang baru berusia 51 tahun ini meminta Jokowi duduk di jok depan mobilnya. Lalu menjamunya dalam jamuan makan siang di sebuah restoran umum di Abu Dhabi. Pada pertemuan itulah, Jokowi meminta PEA meningkatkan investasinya di Indonesia. Tanpa basa-basi pembicaraan mengalir, semua permintaan Presiden diamini Mohammed.

Salah satu investasi dari PEA yang akan masuk ke Indonesia adalah pengelolan Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan (bukan Bagan Siapiapi, Riau). Pemerintah ingin menjadikan pelabuhan itu berkelas internasional dengan menjalin kemitraan pada pengelola Dubai Port.

Di Doha, Qatar, Jokowi memanfaatkan pertemuan empat mata dengan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad. Lagi-lagi di pertemuan itu, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia ingin investasi dari Qatar masuk ke Indonesia. Emir Thamim berbisik pada Jokowi, jika ada persoalan, silahkan menelponnya langsung. “Tidak usah formal-formal,” kata Thamim kepada Jokowi di Istana Diwan Emiri, Doha, Senin (14/9) siang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pilihan Indonesia mengunjungi tiga negara tersebut bukan tanpa alasan. Secara politik, Arab Saudi dipilih karena memiliki pengaruh kuat di jazirah Arab. Hal ini ditandai beberapa organisasi internasional berkantor di negara ini, di antaranya Organization of Islamic Cooperation atau Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Gulf Organization of Islamic Cooperation, Gulf Cooperation Council, Muslim World League, dan Islamic Development Bank (IDB).

Kunjungan Presiden ke sana sekaligus membuka dialog strategis dengan negara-negara di kawasan Teluk Persia. Ungkapan yang pas untuk kunjungan Presiden kali ini adalah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali datang, banyak hal yang dicapai.

Negara seluas 2,149 juta kilometer persegi itu menguasai seperlima cadangan minyak dunia. Ekonomi Arab Saudi ditopang leh produsi minyak, lebih dari 75 persen pendapatan negara dan 90 persen pendapatan ekspor diperoleh dari ekspor perminyakan.

Peran penting

Azyumardi Azra, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tidak terlalu yakin masuknya investasi tiga negara Arab itu ke Indonesia. Mereka saat ini sedang membutuhkan dana membiayai konflik di kawasan itu. Konflik bersenjata di kawasan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Kedatangan delegasi Indonesia, kata Azyumardi, diyakini dapat memperkuat langkah politik negara-negara yang dikunjungi Presiden. Lepas dari persoalan ekonomi, menurut Azyumardi, secara politis, kunjungan Presiden ke tiga negara tersebut menguntungkan mereka.

Indonesia sebenarnya bisa memainkan peran penting tanpa harus dimanfaatkan kehadirannya. Indonesia bisa menyebarkan Islam moderat yang berkembang di tanah air ke negara-negara itu. Harapannya, dengan cara itu, konflik di sana dapat mereda dan membawa perdamaian bagi mereka yang sedang berkonflik.

Arab Saudi, PEA, dan Qatar, kata Azyumardi, sama-sama ingin tampil sebagai negara kuat di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, peran Iran juga kuat di kawasan tersebut. “Pendapat saya, pemerintah agar tidak terlalu berharap besar mereka datang dengan investornya. Ada peran penting yang bisa dimainkan Indonesia daripada persoalan investasi,” kata Azyumardi.

Jika peran sebagai penengah konflik itu dapat dimainkan Indonesia, dia meyakini posisi Indonesia semakin terhormat di mata mereka dan dunia. Indonesia memiliki modal meredakan badai konflik yang melanda sebagian negara-negara gurun. (Andy Riza Hidayat, Doha, Qatar)

#tulisan serupa juga dimuat di Harian Kompas, Senin 21 September 2015

Putra Mahkota Jadi Sopir Presiden

Ada secuil kisah menarik di tengah lawatan Presiden Joko Widodo ketiga negara di Timur Tengah. Sambutan istimewa tuan rumah berkali-kali dirasakan Presiden Joko Widodo. Tak terkecuali ketika Presiden tiba di Bandara Internasional Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab, Minggu (13/9/2015) siang.

Siang itu Putra Mahkota Mohammed bin Sayed Al Nahyan menjemput langsung Jokowi di bandara, fenomena yang jarang terjadi pada prosesi penjemputan tamu negara. Perlakuan yang sama diterima Jokowi ketika mengunjungi Arab Saudi, Jumat (11/9/2015) malam, saat Raja Salman bin Abdul Azis menjemputnya di pintu pesawat. Namun kisah di Abu Dhabi sungguh berbeda.

Setelah upacara kenegaraan, sesuai status kunjungannya sebagai kunjungan kenegaraan, dilanjutkan pertemuan bilateral dengan para menteri. Kemegahan bandara dan penyambutan resmi siang itu benar-benar formal. Kami, para jurnalis, menganggap prosesi itu sebagai hal yang biasa dalam ritual kenegaraan.

Usai pertemuan itu, Presiden dijadwalkan menuju Hotel Emirates Palace, yang disebut-sebut sebagai hotel paling mahal di dunia. Semua menteri dan rombongan siap di mobil yang disediakan. Pada saat itulah formalitas mulai lebur. Sang Putra Mahkota meminta Jokowi masuk ke mobilnya. Layaknya bertemu teman lama, ini anggapan yang dirasakan Jokowi, ajakan itu tak bisa ditolak.

Bukanya dikendalikan pengemudi istana, mobil mewah itu dikemudikan sendiri oleh Putra Mahkota. Tidak ada seorang pun kecuali Mohammed dan Jokowi sendiri. Pertemuan akhirnya dimanfaatkan untuk membicarakan berbagai hal sambil mengemudi.

Jokowi merasa ada nuansa kerinduan dari Putra Mahkota. Bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai kepala negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Selama 11 tahun terakhir, belum pernah ada Presiden Indonesia yang berkunjung ke Persatuan Emirat Arab.

Sebelum berkunjung ke Abu Dhabi, pada bulan Maret lalu. Pada saat itu, Jokowi menyapa Mohammed yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan kecil. “Saya sampaikan, kenapa Emirat Arab tidak banyak menanam investasinya ke Indonesia. Banyak potensi yang bisa dikembangkan,” kata Jokowi ketika itu.

Mohammed menjawab enteng. “Bagaimana kami mau investasi, Anda belum datang ke tempat kami,” kata Mohammed. Lontaran itu langsung dijawab Jokowi. “September nanti saya ke sana,” katanya.

Rupanya Mohammed mengapresiasi Jokowi yang menepati janji. Pembicaraan dalam mobil itu pun mengalir deras. Cara Mohammed mengemudi bagi Jokowi terlalu kencang. Apalagi dilakukan sambil mengobrol.

“Mungkin dia merasa biasa, tetapi saya tidak biasa dengan kecepatan mobilnya,” kata Jokowi.

Perjalanan dari bandara ke Hotel Emirates Palace terlalu singkat. Sekitar 30 menit Presiden dan rombongan tiba di hotel itu. Jokowi masih berdebar-debar usai turun dari mobil.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang mendapat cerita itu kaget. Dia pun tidak menyangka Putra Mahkota mau menjadi pengemudi mobil yang dikendarai Presiden Jokowi. “Peristiwa ini kecil tetapi mungkin bisa berdampak besar bagi kedua negara,” kata Pramono. (Andy Riza Hidayat)

Hari-hari yang Mencemaskan

Menyimak hari-hari ini, serasa negara dalam kondisi yang tidak terlalu aman. Paling tidak terkait persoalan ekonomi. Presiden dua pekan terakhir menggelar rangkaian pertemuan dengan banyak pihak. Tema besarnya tentang kondisi ekonomi.

Keseriusan (bukan kepanikan) ini terjadi karena devaluasi mata uang yuan, penguatan mata uang dollar, krisis Yunani, konflik di semenanjung Korea, dan fenomena dunia lain. Semuanya membawa kondisi perekonomian global yang makin tidak menentu. Ekonom bilang situasi ini disebutnya dengan sebutan black monday. Senin kelabu. Situasi kelabu di saat bisnis dimulai di awal pekan.

Kekhawatiran perekonomian akan makin buruk terjadi pada saat rupiah menyentuh angka Rp 14.000 per satu dollar AS. beberapa hari bahkan lebih dari Rp 14.000 per satu dollar AS. Di media sosial, nilai tukar rupiah terhadap dollar sempat menjadi olok-olok karena mirip dengan call center makanan cepat saji.

Saya bukan orang ekonomi, tetapi mau tidak tidak mau harus memantau situasi yang tengah berkembang. Meliput peristiwa-peristiwa itu lalu menjahitnya menjadi rangkaian berita.

Kemarin, Kamis (27/8/2015) pemerintah kembali menggelar pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta. Pemerintah menyatakan sedang menyiapkan paket kebijakan ekonomi baru untuk menjawab pelemahan ekonomi global yang sedang terjadi. Adapun target yang diharapkan dari langkah tersebut adalah menggerakkan perekonomian nasional dan mendorong masuknya valuta asing.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan bahwa pemerintah berkepentingan menarik valuta asing masuk. Harapannya langkah itu dapat menurunkan tekanan dollar terhadap rupiah. “Paket ini menyangkut sektor riil, keuangan, deregulasi kelembagaan dan aturan, penerbitan kebijakan baru, serta pemberlakuan tax holiday,” kata Darmin Nasution usai bertemu Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden.

Bagaimana ujung dari cerita ini ? Saya tertarik untuk terus menyimaknya..

Jakarta, Jumat 28 Agustus 2015

Podium Pertama Sang Presiden

Screen Shot 2018-09-04 at 1.41.09 PM
Sumber foto, pemberitaan Kompas 21 Agustus 2015.

*Pidato Kenegaraan

Banyak tokoh dunia menggunakan pidato untuk membakar semangat maupun menggalang solidaritas sebuah bangsa. Dari podium pidatolah Barrack Obama dikenal sebagai figur penting Amerika Serikat setelah tampil pada konvensi Partai Demokrat 27 Juli 2004.

Saat itu Obama menyerukan semangat antidiskriminasi. Dia meyakini bahwa semua manusia diciptakan sama. Mereka yang lahir ke dunia diberkati Sang Pencipta mereka dengan hak-hak asasi untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan.

Pidato selama 16 menit itu membuat nama Obama makin dikenal di Amerika Serikat. Richard Greene, dalam bukunya “Words That Shook The World” menilai Obama telah mendobrak masalah diskriminasi yang berkembang ratusan tahun. Karena hal itulah, nama Obama naik daun ke panggung politik AS.
Mirip dengan itu, Presiden Joko Widodo ingin membangun semangat optimisme rakyat. Saat pertama kali menyampaikan pidato kenegaraan 14 Agustus lalu, Presiden banyak menyinggung tentang potensi Indonesia sebagai sebuahbangsa besar.

Di pungkasan pidato 42 paragraf itu, Presiden mengatakan, “Kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya. Untuk hidup sejahtera perlu kerja keras, butuh pengorbanan. Ayo kerja untuk bangsa! Ayo kerja untuk negara ! Ayo kerja untuk rakyat !”

Serupa dengan Obama saat di Boston AS, Jokowi juga mendapat tepuk tangan hadirin yang menyaksikan pidatonya di Gedung DPR MPR. Dr Felicia N Utorodewo, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berpendapat pidato Presiden mirip apologia atas hal yang terjadi sekarang ini.

Hal ini terlihat pada paragraf 18—23 pidatonya. Di paragraf-paragraf tersebut Presiden lebih banyak menyampaikan harapan dan ajakan kepada rakyat Indonesia. Di paragraf 19 misalnya, Presiden mengutarakan program mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor-sektor produktif.

Presiden berupaya menjelaskan bahwa program itu dilakukan dengan mengalihkan dana subsidi senilia Rp 240 triliun untuk membangun sekolah, membangun rumah sakit, meningkatkan kesejahteraaan rakyat melalui program ekonomi produktif, dan perlindungan sosial, serta membangun lebih banyak lagi infrastruktur.

Sementara pada paragraf 27 dikatakan bahwa pemerintah telah memperbanyak pasar rakyat. Namun sayangnya, tidak ada angka yang menunjukkan jumlah perbanyakan pasar tersebut. Adapun di paragraf 25—35 pidato Jokowi lebih banyak berisi harapan yang ingin dicapai. Paragraf-paragraf tersebut mengandung deskripsi harapan yang ingin dicapai oleh pemerintah.
“Kita juga akan membangun kekuatan pertahanan Negara yang tangguh dengan memberdayakan alutsista produksi dalam negeri,” kata Presiden dalam pidatonya di paragraf 35.

Masih muda

Felicia berpandangan pidato tersebut belum sepenuhnya membicarakan capaian atau keberhasilan Pemerintah. Materi pidato Presiden masih minim dengan pembuktian faktual berupa rincian logis, uraian kuantitatif atau alasan kualitatif.
Dia menduga kenyataan ini terjadi karena masa pemerintahan pimpinan Jokowi masih sangat muda, belum genap setahun, belum banyak yang dapat dilaporkan oleh Presiden. Semua masih dalam rencana.

Ada sejumlah hal yang sebenarnya ditunggu publik yakni
penjelasan perombakan kabinet dari Presiden langsung. Hal ini disampaikan di paragraf 15 pidato Presiden. Namun sayang Jokowi hanya menyinggung sedikit alasan perombakan kabinet.

“Saya juga tidak tahu apakah peraturan protokoler keistanaan memilki kebijakan untuk tidak membahas hal perombakan kabinet dalam pidato kenegaraan. Padahal hal itu menjadi perhatian masyarakat,” kata Felicia.

Betata pun juga, pidato ini tetap memberi harapan baru kepada masyarakat Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan. Pesan positif tersebut yang dapat ditangkap Felicia dari pidato perdana kenegaraan Jokowi di DPR.
Belum tersampaikan

Sutejo, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) menyoroti tentang penggunaan bahasa Presiden. Ajakan presiden untuk bersatu membangun bangsa agar berdaulat secara politik, ekonomi, dan budaya adalah hal yang baik.
Namun, Presiden sebaiknya juga menyinggung kedaulatan Bahasa Indonesia. Di usia RI yang ke-70, tidak salah jika Presiden mengingatkan salah satu unsur pemersatu bangsa adalah Bahasa Indonesia.
Dia mengapresiasi pidato Presiden yang telah mengutamakan bahasa Indonesia di dalam pidatonya. Hal ini terbukti dari minimnya penggunaan istilah asing di tiga pidatonya di hari Jumat 14 Agustus lalu. Seharusnya hal ini menjadi teladan pejabat negara lain saat menyampaikan pidato resminya di depan publik.

Tidak hanya pejabat negara, warga biasa juga menunggu materi pidato Presiden pekan lalu. Muslichun, warga Petamburan, Jakarta Pusat penasaran dengan materi pidato presiden. Sebagai keluarga kalangan pegawai negeri sipil (PNS), dia ingin tahu pandangan presiden tentang kesejahteraan pegawai.
Biasanya dalam pidato kenegaraan, maupun pidato tentang rancanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, hal itu disampaikan Presiden sebelumnya. Namun Muslichun tidak mendapatkan informasi tentang itu.
Menurut dia, pidato Presiden itu lebih mirip sebagai seorang motivator bagi rakyatnya. Bukannya tidak baik, namun sebaiknya pidato tahunan seperti itu menyentil hal-hal sedang ditunggu-tunggu publik. (Andy Riza Hidayat)

#dimuat di harian Kompas, Jumat 21 Agustus 2015

Mudik, Perjalanan untuk Belajar (1)

 

Setiap orang memiliki kesan dengan perjalanannya, saya pun demikian. Perjalanan mudik yang saya jalanani kapan hari saya anggap sebagai perjalanan untuk belajar. Bagi saya, terutama bagi dua anak saya.

Bahwa perjalanan itu yang penting bukan tujuannya, melainkan proses menuju ke sana. Setiap mencapai tujuan, perlu proses dan kesabaran, itulah salah satu pembelajaran yang bisa saya petik untuk Elinga dan Lui, dua anak saya.

Setelah sebelumnya saya selalu mudik dengan pesawat, tahun ini saya mudik dengan kereta. Kami berangkat dengan kereta Agro Anggrek pukul 09.30 dari Stasiun Gambir tujuan Stasiun Pasar Turi Surabaya. Elinga dan Lui riangnya bukan main ketika kereta yang mereka tunggu tiba. Dalam perjalanan mereka juga senang melihat pemandangan di balik jendela kereta.

Pada paroh perjalanan, dua anak saya itu mulai bosan. Lui menanyakan mengapa tidak sampai-sampai ke rumah eyangnya di Jawa Timur ? Saya bilang, sabar, nanti akan sampai. Sementara Elinga mulai menghabiskan waktu dengan memainkan gawai ibunya.

Agar tidak bosan, mereka saya ajak jalan ke gerbong 4, lokasi gerbong makan berada. Mereka heran, mengapa di dalam kereta ada “restoran.” Saya senang dapat menemani mereka mengenal banyak hal baru. Kami duduk di restoran itu dan memesan makanan.

Namun makanan kesukaan Elinga tidak ada, ayam bakar kecap, yang ada ayam bakar taliwang yang pedas. Elinga kecewa, saya bilang sabar, masih ada menu lain. Tidak semua keinginan itu harus terlaksana, itu pelajaran berikutnya. Saya pesan ayam goreng tanpa sambal, sementara Elinga masih menggerundel. Tetapi itulah pilihan terbaik daripada tidak makan. Pada saat kemudian, Elinga juga mau memakannya.

Silaturahmi

Begitu sampai di Surabaya, hari sudah mulai gelap. Mereka girang, bergegas membantu mendorong koper kami. Lalu keduanya berlari keluar gerbong, menghampiri Om nya yang menjemput di stasiun. Kali mereka mulai belajar bersilaturahmi.

Kegirangan itu berlanjut hingga ke rumah eyangnya di Gresik. Mereka salim lalu memeluk eyangnya sambil bercerita pengalaman menggunakan kereta. Esok harinya kami melanjutkan silaturahmi ke keluarga lain di Gresik. Kebosanan kembali datang, dan mereka tidak tahan dengan obrolan orang-orang dewasa di sekitarnya. Ponakan kami yang ikut datang juga sibuk dengan mainannya sendiri. Seharusnya mereka bisa berbaur dan membicarakan urusan anak-anak. Tetapi mereka mencari tempat kesukannya, ada yang di teras, jalan depan rumah, dan di kamar.

Bersambung….

Saat Macan Asia dan Singa Afrika Mengaum

 

Setelah mengikuti pemberitaan dalam negeri yang tiada henti, mulai 19-24 April 2015 aku bertugas meliput peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60. Peringatan itu diikuti 106 negara, puluhan di antaranya hadir kepala negara dan wakil kepala pemerintahan. Bahkan saat historical walk, jalan dari Hotel Safoy Homann ke Gedung Merdeka di Bandung (sekitar 100 meter), diikuti 23 kepala negara dan wakil kepala pemerintahan.

Sebagai warga negara, saya bangga. Konferensi ini ingin menguatkan solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Dua benua di mana lebih dari separuh penduduk dunia hidup. Bangsa-bangsa ini ingin menunjukkan kekuatan politiknya, bahwa mereka kekuatan alternatif dalam tatanan dunia.

Sayangnya, negara-negara ini yang kebetulan hidup di belahan dunia selatan, masih tertinggal dibanding warga di belahan bumi utara.

Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan KAA, menyoroti tentang keseimbangan ekonomi dunia. Menurut Jokowi, saat ini terjadi dominasi negara-negara kaya atas negara-negara miskin. Ketika ratusan orang di belahan bumi utara menikmati kehidupan yang super kaya, sementara lebih dari 1,2 miliar orang di belahan bumi selatan berjuang hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dolar Amerika Serikat per hari. Karena alasan itulah, konferensi ini digelar.

Selama karir sebagai jurnalis, meliput konferensi internasional ini merupakan tugas pertama saya emban. Berada di ruang pers dengan luas dengan kapasitas 1.000 orang, wow. Saya tidak ingin mengulas yang lain-lain dulu, karena ingin mengulas semangat konferensi ini. Sungguh penghargaan bagi bangsa ini, didatangi pemimpin dunia dari dua benua.

Untuk pertama kali saya saksikan retorika pemipin dunia berpidato. Walau hanya lewat monitor (sebesar empat kali daun pintu rumah), saya puas menyaksikannya. Presiden Mesir, Presiden Afrika Selatan, Presiden Nepal, Presiden Tiongkok, Raja Jordania, Sultan Brunei, Perdana Menteri Jepang, Wakil Presiden Venezuela (wakil dari Amerika Latin) dan lain-lain…

Senang melihat macan Asia dan singa Afrika kembali mengaum…

Selasa, 25 April 2015

Dua Hari yang Menginspirasi Saya

Hanya dua hari, tetapi setelah melewatinya, rasanya begitu mengena. Itu yang saya alami setelah mengikuti pelatihan Wellness Revolution Rabu (24/3) – Kamis (25/3) 2015. Pelatihan ini mengenalkan tentang pola hidup dan makan yang sehat.

Dari pelatihan itu, saya juga baru tahu, mengapa seseorang mudah gemuk hanya karena makanan “sepele.” Itu terjadi karena bahan makanan itu tidak sehat, kalorinya tinggi, dan seringkali mengandung kolesterol tinggi. Hanya sepele kata orang, sepotong kerupuk, keripik, kue, keju, atau cokelat.

Pelatihan itu bahkan tidak dianjurkan mengurangi makan, justru dianjurkan makan lima kali. Tetapi jenis makanan yang dimakan yang harus di seleksi. itu baru tentang makanan.

Kalori manusia pada dasarnya dapat diketahui kebutuhannya tiap hari, saya sendiri sesuai program aplikasi myfitnesspal, membutuhkan 2040 kalori setiap hari. Setiap orang berbeda kebutuhannya tergantung dari berat dan tinggi badan. Jika ingin diet, maka perlu mengurangi kebutuhan kalori, bukan mengurangi makan.

Hal lain yang mesti dilakukan orang kalau mau sehat ya olahraga. Ada sejumlah testimoni peserta sebelumnya yang inspiratif, Mas Tono misalnya. Penyandang diabetes itu bertahun-tahun tergantung dengan obat, dengan olahraga, diabetesnya mulai berkurang.

Yang menarik dari pelatihan ini, instruktur datang dari beragam latar belakang, ada psikolog, ahli kebugaran, dan ahli gizi. Ketiganya memberi pandangan sesuai kompetensinya. Psikolog misalnya, berpandangan pikiran orang mempengaruhi kesehatan. Maka tidak heran orang dengan pikiran yang kurang sehat, mendorong munculnya hormon merugikan. Maka Sis Monic (kami memanggil perempuan dengan sebutan itu, sementara untuk laki-laki dengan sebutan Bro), mengajak kami berjalan-jalan ke masa lalu.

Sesi ini yang paling saya suka. Tidak rasional ! Memang tidak perlu dirasionalkan. Pikiran kita terlalu didekte dengan hal-hal yang sifatnya rasional.  Sementara alam bawah sadar yang 90 persen ada dalam pikiran kita, jarang (mungkin tidak pernah) digali potensinya. Sis Monic menyarankan, agar apapun yang muncul selama meditasi berjalan-jalan ke masa lalu, jangan dipatahkan.

Saya bertemu dengan masalah-masalah masa lalu yang mengganjal. Masalah itulah yang kemudian menjadi emosi kesedihan, marah, merasa bersalah, atau emosi kesal. Satu per satu masalah itu saya selesaikan, saya kembali ke masa lalu dan mencoba melihat yang seharusnya saya lakukan. Saya merasa setelah itu agak enteng.

Pengalaman setiap peserta alam meditasi itu tentu berbeda-beda. Ada yang melihat sesuatu di luar dugaannya, itulah keajaiban alam bawah sadar.